Episode 19

Jae-shin berkata ia datang untuk ikut merayakan ulang tahun kepala keamanan. Jae-shin menyerahkan hadiah yang ia persiapkan sebelumnya. Isinya sebuah tas yang cantik. Kepala keamanan sangat senang. Suasana pun mencair. Jae-shin tersenyum.
Ia ingat PR yang diberikan Shi-kyeong padanya. Ia harus berlatih menghadapi orang lain, tersenyum 3 kali sehari, dan kembali bernyanyi.


Shi-kyeong mendorong Jae-ha agar menduduki kursi (seperti tahta kerajaan) yang telah dipersiapkan. Jae-ha ragu-ragu. Shi-kyeong mengokang senjatanya. Jae-ha terpaksa duduk, berhadapan dengan Bong-gu yang juga menduduki kursi yang sama. Bong-gu ingin memperlihatkan kalau ia juga Raja, setingkat dengan Jae-ha.

“Batalkan tuntutan, putuskan pertunangan dengan Kim Hang-ah, dan turunlah dari tahta. Jika tidak….” ancam Bong-gu.
“Apakah ia yang ditugaskan untuk membunuhku?” tanya Jae-ha tanpa sekalipun menatap Bong-gu.

Jae-ha harus memilih. Jika ia tidak memenuhi tuntutan Bong-gu maka ia akan mati. Jika ia memenuhi tuntutan Bong-gu, ia akan tetap hidup dan sebagai gantinya Korea yang akan hancur. Ini sih bukan milih namanya >,<


Hang-ah memberitahu ayahnya kalau ia dan Jae-ha telah mendiskusikan sebuah rencana. Ia minta maaf tidak memberitahu ayahnya sebelumnya karena alasan keamanan. Hanya kepala pengawal istana yang mengetahui rencana itu.
Jae-ha melirik Shi-kyeong yang masih mengacungkan senjatanya padanya.
“Jangan terlalu membencinya. Aku telah menghabiskan banyak usaha agar ia berpihak padaku. Jujurlah, apa kau pernah berusaha untuk mendapatkannya? Kau mendapatkannya karena statusmu. Aku menggunakan uang untuk mendapatkan orang dan kau menggunakan statusmu. Apa bedanya?” celoteh Bong-gu.
“Kau…apakah benar seperti itu?” tanya Jae-ha pada Shi-kyeong.
“Apa yang bisa disukai dari seorang Raja yang hanya menyandang gelarnya saja? Aku pernah goyah,” Shi-kyeong mengakui. “Ketika kau ingin turun tahta dan ketika kau menghalangiku datang ke sini. Tapi hanya itu saja.”
Wajah Bong-gu berubah mendengar perkataan Shi-kyeong.

Shi-kyeong dengan dramatis mengalihkan senjatanya terhadap Bong-gu. Bon Bon serta merta mengacungkan senjatanya pada Shi-kyeong. Pasukan Bong-gu merapat, mengacungkan senjata mereka pada Shi-kyeong dan Jae-ha.

Pasukan Utara dan Selatan muncul dari balik batu-batuan, mengepung Bong-gu dan para kroconya. Bong-gu terdiam, sementara Jae-ha ganti memandangnya dengan penuh percaya diri. Well, this is the real King.



Shi-kyeong memerintahkan agar pasukan Bong-gu menurunkan senjata mereka. Mereka menurunkannya, kecuali Bon Bon.
“Kau juga,” perintah Shi-kyeong.
Bon Bon pelan-pelan menurunkan senjatanya. Lalu tiba-tiba ia mengacungkannya kembali untuk menembak Shi-kyeong. Ia kalah cepat, Hang-ah telah lebih dulu menembaknya, mengenai bagian lengan Bon Bon hingga senjatanya terlepas.
Shi-kyeong dan pasukan Utara-Selatan otomatis mengeluarkan tembakan ke arah Bon Bon. Diserbu rentetan peluru, Bon Bon pun terkapar. No more crazy chocolate girl.
Bong-gu mengangkat kedua tangannya. Dua petugas ICC menghampiri Bong-gu untuk menangkapnya. Seorang dari mereka membacakan hak-hak Bong-gu sementara seorang lagi memborgol tangan Bong-gu yang terletak di belakang kepala.
Shi-kyeong menurunkan senjatanya dan berbalik menghadap Jae-ha. Hang-ah pun menurunkan dan membereskan senjatanya. Shi-kyeong tersenyum lega.

Peluru menembus punggung Shi-kyeong hingga darah terpercik ke pakaian Jae-ha. Jae-ha terbelalak. Hang-ah terkejut saat mendengar suara tembakan. Shi-kyeong berbalik melihat Bong-gu, lalu roboh. Jae-ha cepat-cepat menangkapnya.

“Mengapa kau membuatku seperti ini?” tanya Bong-gu pada Shi-kyeong. Patah hati rupanya.


“Y-Yang Mulia…”
“Jangan bicara,” gumam Jae-ha panik. Ia berteriak meminta ambulans. Dong-ha tersadarkan dari rasa terkejutnya dan berlari untuk menelepon ambulans.
Shi-kyeong memuntahkan banyak darah. Jae-ha semakin panik.
“Bagaimana ini…bagaimana ini…karena aku…” air mata menetes tanpa Jae-ha sadari.
“Jangan….katakan itu. Aku yang membuat pilihan ini. Bukankah kita sudah menangkap Bong-gu? Di masa yang akan datang, pastikan untuk tidak pernah menyerah. Karena kau adalah…” Shi-kyeong berusaha meneruskan ucapannya, “Raja…”

“Eun Shi-kyeong!! Shi-kyeong-ah…jangan mati…jangan mati!! Eun Shi-kyeong!!! Ini perintah...jangan mati!! Eun Shi-kyeong!!”
Shi-kyeong mengingat masa-masa ia bersama Jae-shin dan ayahnya (sementara Jae-shin sedang membuat PR-nya dengan tersenyum dan menyanyi untuk para pelayan). Terakhir, ia ingat teman-temannya dalam WOC. Gosh…this drama is killing me *nangis parah*



“Komrad Eun Shi-kyeong….gugur saat menjalankan tugas,” kata Hang-ah menahan tangisnya.
“Dia bilang dia pergi berlibur,” Jae-shin menjelaskan.
Hang-ah menatap Jae-shin.
“Itu benar, Kak. Eun Shi-kyeong tak akan berbohong.”
Hang-ah tak menjawab. Ia menyerahkan sebuah kotak kecil pada Jae-shin. Dengan tangan gemetar, Jae-shin mengambil kotak itu dan membukanya. Isinya adalah rantai dengan tanda pengenal Shi-kyeong. Jae-shin menangis.

Hang-ah memalingkan wajahnya dan berusaha menahan tangisnya, tak tahan melihat kepedihan Jae-shin.

Hang-ah tak tahan lagi. Air matanya mengalir. Hang-ah memeluk Jae-shin dan ikut menangis bersamanya.
“Tidaak…tidaaak…” ratap Jae-shin.


“Pikiran kita berdua saat ini mungkin sama. ’Aku yang mengakibatkan kematiannya’. ‘Dia mati gara-gara aku’. Tapi karena aku Raja, aku tidak diperbolehkan hanya memikirkan hal itu. Paman juga sama,” kata Jae-ha.
Jae-ha tahu Sekretaris Eun menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematian Shi-kyeong, sama seperti dirinya. Sekretaris Eun pasti berpikir jika awalnya ia tidak berkhianat, Shi-kyeong tidak akan mengajukan diri menjadi mata-mata untuk menebus kesalahan ayahnya. Atau jika ia tidak bekerjasama dengan Bong-gu, mungkin keadaannya tidak serumit ini. Sementara Jae-ha merasa bersalah karena pada akhirnya ia yang mengirim Shi-kyeong untuk tugas berbahaya ini.
Jae-ha mengusap papan nama Shi-kyeong.
“Walau aku sedikit berbeda dengannya, menurut Paman aku bagaimana? Aku akan menganggap Paman sebagai ayahku dan akan menjaga Paman.”
Sekretaris Eun tak bisa menjawab. Jae-ha memeluk Sekretaris Eun. Keduanya kehilangan Shi-kyeong tapi mereka berdua bisa menguatkan satu sama lain.


Sekretaris Eun, Jae-ha, dan seluruh pasukan pengawal kerajaan mengantar kepergian Shi-kyeong. Sebuah tanda penghargaan negara pada Shi-kyong, ditaruh Jae-ha di atas altar. Suasana duka menyelimuti tempat itu.
“Yang Mulia, kapten gugur saat ia masih tercatat bertugas di negara lain. Tolong biarkan ia kembali pada kesatuannya. Setidaknya agar rohnya dapat kembali,” kata Dong-ha. Jae-ha menatap foto Shi-kyeong.
“Aku perintahkan Kapten Eun Shi-kyeong kembali ke kesatuannya,” Jae-ha memerintahkan dengan lantang, lalu memberi hormat. Penghormatan terakhir diberikan berupa tembakan ke langit.

“Setelah semua peristiwa ini, aku hanya mempelajari satu hal. Bahwa orang seperti aku, sama sekali tidak boleh memperlihatkan perasaan. Tidak ada untungnya sama sekali,” kata Bong-gu pada dirinya sendiri.
Pada dasarnya ICC tidak mendapatkan jawaban apapun dari Bong-gu. Bahkan tim pengacara Bong-gu mengajukan permintaan pembebasan dengan jaminan.


“Petisi? Hanya itu? Katakan pada mereka yang telah menerima sumbangan kita, aku akan membeberkan nama mereka pada umum. Tidak…aku akan membeberkan semuanya.”
“Tindakan itu akan menyakiti kita juga,” Daniel mengingatkan.
“Agar bisa benar-benar sadar, kita harus memotong beberapa jari. Mereka tidak tahu siapa yang mereka tangkap,” sahut Bong-gu.
Daniel Craig berkata ia akan mempersiapkan semuanya. Apapun konsekuensinya. Bong-gu menambahkan bahwa hubungan Korea Utara dan Selatan harus terus ditekan.


Baru saja Hang-ah menutup teleponnya, sebuah telepon lain masuk. Dari wajahnya yang sumringah, kita bisa menerka kalau Jae-ha yang meneleponnya.
“Dengan siapa kau barusan berbicara? Dengan pria-kah?”
“Akan baik sekali jika ada seorang pria yang bisa kuajak bicara melalui telepon,” gurau Hang-ah. Jae-ha tersenyum. Ia bertanya apakah Hang-ah merasa lelah. Hang-ah berkata ia melakukan hal-hal yang pernah dilalui Ibunda Raja, cukup menarik.


Hang-ah tersenyum mendengar perkataan Jae-ha.
“Halo? Mengapa kau tak mengatakan apapun? Apa kau tak ingin menikah?” seloroh Jae-ha.
“Bagus juga jika tidak menikah.”
“Apa yang kaukatakan? Kita telah melalui berbagai kesulitan hingga saat ini.”
Jae-ha mengajak Hang-ah bertemu satu jam sebelum pembuatan video persatuan.
“Sebelum mulai syuting, aku akan menraktirmu makan kue,” bisik Jae-ha. Hang-ah diam-diam tersenyum senang.
“Kenakan jins dan topi, kita akan berjalan-jalan. Bergandengan tangan.”
“Apa salahnya menggunakan waktu luang untuk berkencan? Sudahlah jika kau tak mau,” ujar Jae-ha pura-pura kesal, “Aku mungkin akan syuting dengan orang lain saja. Banyak wanita cantik di sana. Apakah aku perlu membuat film dengan mereka?”
Hang-ah tak termakan usaha Jae-ha untuk membuatnya cemburu. Ia bertanya apakah mereka benar-benar bisa seperti orang biasa, pergi makan kue dan minum kopi.


Jae-ha tersenyum mengiyakan. Hang-ah berkata ia akan segera datang begitu kegiatannya selesai. Ia meminta Jae-ha menunggu. Mereka tak sabar untuk segera bertemu dan berkencan.


“Tampaknya mereka mulai menjatuhkan sanksi ekonomi pada kita,” kata Sekretaris Eun.
“Apa alasannya?” tanya Jae-ha.
“Dan juga Direktur Dewan Keamanan Amerika ingin berbicara dengan Yang Mulia. Sepertinya mengenai masalah ini.”

“Penangkapan John Mayer adalah tragedi internasional.” Whaaa???? Lalu disebut tragedi apakah kematian Jae-kang dan Shi-kyeong??? Hal itu juga yang menjadi argumentasi Jae-ha. Tapi Direktur itu berkata pengadilan yang berhak membuat penilaian. Direktur itu mengancam akan memberi lebih banyak sanksi pada Korsel jika Jae-ha tak ikut mengajukan petisi untuk pembebasan Bong-gu dengan jaminan.
Belum tahu dia berapa IQ Jae-ha hehehe^^ Jae-ha bertanya apakah permintaan pembebasan Bong-gu itu diajukan secara resmi oleh “negara” Amerika Serikat, dan bukan dari Direktur itu secara pribadi.
“Well, itu bagian dari kebijakan para politisi Amerika. Seperti kau tahu, aku adalah Direktur Dewan Keamanan Amerika.”
“Benarkah? Aku adalah Raja Korea Selatan,” sahut Jae-ha.
Karena bukan pemerintah Amerika Serikat yang secara resmi mengajukan permintaan, ia tidak bisa mengerti permintaan itu. Dengan tenang ia meminta Direktur itu meneleponnya lagi jika pemerintah Amerika sudah resmi mengambil sikap.


Jae-ha memanggil memanggil Menteri Ekonomi dan Menteri Urusan Luar Negeri untuk membicarakan masalah ini. Masalah ini cukup serius karena jika sanksi berlangsung selama 6 bulan saja, perekonomian Korea akan sulit dipulihkan. Menteri Luar Negeri menyarankan agar mereka menuruti permintaan itu. Bukankah pembebasan dengan jaminan bukan berarti Bong-gu terbebas dari tuntutan?
“ Dia tidak boleh dibebaskan dengan jaminan, Yang Mulia,” kata Sekretaris Eun tegas, “Pembebasannya akan berpengaruh besar pada pengadilannya nanti. Dia pasti akan melarikan diri ke negara lain (yang bukan anggota ICC) selama ia dibebaskan. John Mayer harus menerima hukumannya.”
Jae-ha mengangguk setuju.
Hang-ah telah kembali ke istana. Ia mengenakan pakaian kasual dan melangkah riang, siap untuk kencannya dengan Jae-ha.
Tapi ia berhenti di ambang pintu ketika Jae-ha mengatakan sesuatu mengenai sanksi ekonomi. Hang-ah melihat wajah tunangannya yang nampak kusut. Ia melihat Jae-ha menerima telepon yang mengingatkannya akan jadwal selanjutnya, Jae-ha meminta agar semua jadwalnya dibatalkan untuk hari itu. Termasuk kencannya.


Ternyata yang mendapat tekanan bukan Korsel saja tapi Korut juga. Cina telah memblokir jalur pipa gas yang menuju Utara. Saat ini partai Utara sedang ricuh. Jika terus seperti itu, rakyat Utara akan kekurangan bahan makanan.
Hang-ah sangat kesal. Ia berkata Bong-gu tidak boleh dilepaskan begitu saja. Ia mengingatkan ayahnya akan apa yang telah dilakukan Bong-gu pada dirinya. Tapi ayah Hang-ah hanya menunduk tak berdaya.

“Mereka memberi kami banyak tekanan.”
“Lalu, jika Kim Bong-gu dilepaskan, apakah Cina akan memberi kita hadiah?” tanya Hang-ah. Mereka hanya akan semakin menggunakan kekuasaan mereka dengan sewenang-wenang.
“Bukankah ini masalah Korea Selatan?” kata ayahnya. Ia bertanya tak bisakah Hang-ah tidak turut campur masalah negara (Selatan) dan hanya mendukung Utara.
“Ayah!!” protes Hang-ah. Ayah Hang-ah menunduk, nampak malu karena telah mengusulkan hal seperti itu pada Hang-ah.
Hang-ah berkata tugas terpentingnya saat ini adalah melindungi Jae-ha. Bukankah ayahnya sendiri yang mengatakan bahwa ia sekarang orang Selatan. Ayah Hang-ah tak bisa berkata apa-apa lagi.


Hang-ah ingin meringankan beban Jae-ha, karena itu ia berkata kalau Utara akan mengirimkan wakilnya ke ICC. Termasuk dirinya yang akan pergi.


“Yang Mulia, bukankah Kim Bong-gu telah melakukan kejahatan dengan mengganggu perdamaian Utara-Selatan? Pada saat seperti ini, mengirimkan orang sepertiku sebagai perwakilan akan saat berguna. Dan lagi cara pendekatan kita berdua sangat mirip,” bujuk Hang-ah.
“Tidak boleh,” Sahut Jae-ha tegas. “Penculikan, dipenjara….kesulitan apa lagi yang hendak kau jalani?”
“Aku ingin membantu Yang Mulia. Dan lagi…”
“Aku hanya ingin kau tinggal di sini dan tak melakukan apapun sampai Kim Bong-gu dihukum. Setidaknya sampai ia diadili, tidak bisakah kau tinggal di sisiku saja?”
Hang-ah terus berusaha membujuk Jae-ha untuk mengijinkannya pergi. Masalah Bong-gu harus diselesaikan secepat mungkin dan ia melihat saat ini hanya Jae-ha dan Korea Selatan yang sedang berjuang untuk mencari kadilan. Ia juga ingin membantu.
“Sudah kubilang tidak apa-apa, kau tinggal saja di sini,” Jae-ha menaikkan suaranya. “Aku tidak sanggup bila kau diculik lagi.”

“Bukankah aku sudah bilang? Sampai Bong-gu diadili.”
“Bagaimana jika ia tidak dipenjara? Apa kau akan seumur hidup bersembunyi di istana dan takut padanya?” tanya Hang-ah. Jae-ha tetap pada pendiriannya, Hang-ah tidak boleh pergi. Hang-ah meninggalkan Jae-ha dengan kesal. Jae-ha terlihat menyesali pertengkaran mereka.


Kepala keamanan menemui Hang-ah dan bertanya apakah Hang-ah bisa pergi ke suatu tempat di mana ia pernah mengadakan kegiatan sosial.
Hang-ah bingung, semalam ini? Kepala keamanan mengiyakan. Ada seorang lansia kesepian yang ingin sekali bertemu dengan Hang-ah. Hang-ah berkata dengan nada menyesal kalau ia telah dilarang pergi keluar istana oleh Jae-ha.


Comments
Post a Comment
silahkan komentar disini, dan gunakan bahasa yang baik dan benar, dan juga saya beritahukan blog ini DOFOLLOW.