Laman

April 07, 2012

Alur cerita Bleach 485

Alur cerita Bleach 485 : foundation stones
Disclaimer : Tito Kibo
===========================

Masih di istana Vandenreich. Tampak anggota Vandenreich yang tangannya baru saja dipotong itu terengah-engah, memandang si pemimpin. Dia mencoba untuk berdiri.
"Jangan dipaksakan," ujar si pemimpin. "Bahkan duduk pun pasti akan tetap terasa sakit. Kau kuperbolehkan berbicara sambil berbaring."
Wajahnya sedikit lega. "Ba... Baik, Yang Mulia..." jawabnya terbata-bata.
"Tapi..." si pemimpin segera melanjutkan kalimatnya, "Kalau kau tak mau duduk kurasa kau tak akan butuh kakimu."
Wajah si tangan-terpotong itu berubah pucat. "...... Anda pasti bercanda...!" sahutnya. "...Saya tak akan... Tak akan pernah bicara pada anda sambil berbaring..." Ucapannya terbata-bata, terengah. Dengan susah payah ia mencoba untuk duduk.
"Saya tak akan pernah berbuat tak sopan pada anda, Yang Mulia...!!"
"Jadi begitu." Si pemimpin tersenyum. "Sekarang mari dengar laporan darimu."
...Situasi kembali ke kamar Ichigo. Teman-teman Ichigo masih memakan roti.
"Lama sekali..." ujar Yuki, si shinigami pemula. "Apanya?" Ishida menimpali.
"Maksudku Kurosaki-san!" jawab Yuki. "Bukannya kalian mau menyusulnya?!"
"Jangan khawatir," Ishida menjawab mantap, membetulkan kacamatanya. "Reiatsu lawan sudah menghilang. Lagipula tidak mungkin Kurosaki kalah dari orang seperti itu. Aku tak pernah berniat membantunya sejak awal!"
Mendengar itu, Chad berbisik, "Diajujur sekali... Padahal aku mau membantunya..."
Sementara Orihime hanya tersenyum, memancing perhatian Ishida. "Kenapa, Inoue-san?"
"Hm?" Balas Orihime, "Tak apa-apa, Ishida-kun. Aku cuma berpikir kau benar-benar telah berteman akrab dengan Kurosaki-kun. Dan aku suka dirimu yang seperti itu."
Ishida terdiam sesaat. "Sebentar..."jawabnya tergugup, "Kalau kau mau mengejekku, lakukan dengancara yang bisa kumengerti!"
"Aku pulaang," terdengar suara Ichigo dari luar, yang akhirnya sampai juga di rumah.
"Selamat datang, Kurosaki-kun!" Inoue menyapa, "Kau terluka?"
"Tidak. Tapi..."
Tiba-tiba terdengar suara aneh yang mengganggu.
"...Lagu aneh apa ini?"
"Ah." Yuki melihat ke bawah. Ia merogoh kantong celananya."Maaf, itu Denreishinki-ku *"
*) Denreishinki = semacam telepon genggam yang digunakanshinigami untuk menerima pesan dari Soul Society
"Sebentar," ujar Shino, "Suara itu..."
"Maaf kalau aneh," lanjut Yuki lagi."Itu ringtone-ku, senandungnya Shino-san."
"Sudah kuduga...! Kapan kau merekamnya...?! "
"Jelek sekali ya?" Yuki terus melanjutkan kalimatnya, tanpa memedulikan Shino. "Apalagi di bagian setelah 'Nnnn,' suaranya makin tinggi..."
"Cepat dijawab!!!"
Dan pukulan pun mendarat di wajah Yuki, membuatnya babak belur.
"Iya, ini Yuki..." akhirnya dia pun menjawab panggilan dari Soul Society (dengan wajah babak belur). "Iya, benar," jawab Yuki sepatah. "Iya. Eh... Tapi..."
"Eh...!?" Yuki terdengar terkejut. Iaberhenti sesaat sebelum lanjut menimpali suara dari seberang telponnya. "Iya... Iya... Begitu... Iya.... Iya, tapi... Baik..." Dan telpon pun ditutup.
"Ada apa?"
"Maaf, Kurosaki-san... Aku diperintahkan segera kembali ke markas..."
Kalimatnya terhenti. Wajahnya tampak pucat.
"Untuk pemakaman."
Keadaan di kamar Ichigo mendadak hening.
"Fukutaichou Divisi 1... Choujiro Sasakibe... Meninggal."
Adegan beralih ke flashback beberapa menit lalu saat Yuki ditelpon dari Soul Society, tepatnya laboratorium Divisi 12. Dari sana, Akon, seorang petugas laboratorium, menjelaskan situasi pada Yuki.
"Oke, aku akan menjelaskaan keadaannya. Jangan bertanya, cobalah untuk dipahami."
"57 menit lalu, 7 orang yang tak diketahui menerobos masuk ruangan Divisi 1. Mereka melarikan diri 52 menit lalu," ujar Akon. "Satu orang anggota divisi tewas. Soutaichou sendiri selamat."
"Di saat bersamaan, ada beberapaorang tak diketahui lain yang menerobos masuk ke gerbang Kokuryou, yang dijaga oleh Divisi 1. Dalam pertempuran selama 182detik, 106 anggota Divisi 1 tewas."
Akon berhenti sejenak. "Kami tidak tahu bagaimana para penyusup itu masuk, begitu juga bagaimana mereka pergi. Tidak ada tanda-tanda Shakonmaku yang mengelilingi Seireitei terpengaruh sesuatu." Air mukanya berubah, seakan membayangkan sesuatu yang benar-benar buruk.
"Kami menduga mereka menggunakan metode yang tak bisa diblokir oleh Shakonmaku...!"
...
Dan adegan pun kembali ke kamar Ichigo. Ia sedang berbaring di kamar. Teman-temannya sudah pulang, Yuki dan Shino sudah kembali ke Soul Society. Ia berbaring beberapa waktu, namun jelas pikirannya amat terganggu.
"...Aku tak bisa diam saja," batin Ichigo. Ia menggenggam lencananya dan melompat dalam wujud shinigami. "Aku akan berkeliling sebentar..."
Ketika berkeliling, benak Ichigo teringat ucapan Ishida setelah mendengar kabar dari Yuki tadi.

"Ini cuma dugaan," ujar Ishida."Tapi..."
Ishida berhenti sejenak. "Kupikir alasan kenapa mereka memberikan informasi yang sangat detil ke Yuki-kun, yang cuma prajurit biasa... Adalah karena mereka tahu kau sedang bersamanya."
"Dengan kata lain," lanjut Ishida,"Mereka mungkin ingin kau tahu apa yang sedang terjadi. Yang berarti dalam waktu dekat mereka akan meminta kerjasama darimu. Tapi sekarang ini tak ada yang bisa kita lakukan."
Ishida melanjutkan kalimatnya."Kau sudah memberitahu Yuki-kun semua informasi tentang orang yang kau lawan. Yang bisa dilakukan sekarang cuma menunggu."
Benak Ichigo mendadak terdistraksi. Ada sesuatu yang menghampirinya. Ia memandang heran. Dan dari atas langit, sebuah kilatan cahaya mendadak nampak... dan sesuatu tampak meluncur sangat cepat.
"UUUUWAAAAAAAAA AAAAAOOOOOOOOHH HH!!!"
Sosok kecil yang sangat familiar bagi Ichigo melesat menghampirinya. .. "Ne... Nel?!?" Ichigo tampak sangat terkejut.
"Kecepatan super!"
BRAK!!! Nel menabrak Ichigo dengan sangat keras, menghantamnya jatuh ke atas tanah, sampai-sampai membingungkan beberapa orangdari kejauhan.
"K... Kau..." ujar Ichigo, setelah sadar arrancar yang menghantamnya itu sekarang adadi atasnya. "Kau tiba-tiba muncul setelah sekian lama cuma untuk...?"
"I... Ichigo..." Nel memotong kalimat Ichigo. "Kacau sekali... Ichigo..."
Suaranya penuh keputus asaan. Isak tangis terdengar sayup dari ucapannya.
"Tolong aku... Ichigo..." Nel berhenti sejenak, berusaha menahan isak tangis namun tak mampu. "Hueco Mundo..."
"Hueco Mundo..."
Mata Ichigo membelalak.
...
Adegan kembali ke istana Vandenreich. Di sana, sang pemimpin baru saja selesai mendengar laporan si tangan-terpoton g.
"5 hari..." ujarnya.
"Ya, Yang Mulia...!" jawab si tangan-terpoton g. "Itu waktu yang diperlukan bagi Soul Society dan kita untuk siap bertempur..."
"Itu keadaan di masa depan." Si pemimpin memotong kalimat bawahannya. Si tangan-terpoton gmendecak heran.
"2 hari lalu, sewaktu kau memeriksa sudut yang digunakanuntuk menembus masuk perbatasan..." lanjut si pemimpin."Kau bilang, dalam waktu dekat Soul Society akan kehilangan keseimbangan roh dengan dunia manusia. Betul?"
"Luders Friegen," ujar si pemimpin, memanggil nama si tangan-terpoton g. "Apa mungkin kau seorang nabi?"
Si tangan-terpoton g, yang ternyata bernama Luders Friegen itu hanya terdiam. Mulutnya terbuka, lidahnya mencoba bicara,namun hanya potongan kata tidak jelas yang terdengar darinya.
"Jawab," ujar si pemimpin, tegas."Aku tadi bertanya... Apakah kau seorang nabi."
"...Ah," Friegen akhirnya menjawab, "...Bukan... Saya bukan..."
"Kalau begitu..." si pemimpin kembali memotong kalimat Friegen. "Kenapa kau bicara tentang keadaan masa depan?"
Ia tersenyum mengerikan. Jarinya dinaikkan ke atas. "Aku mau dengar..." Jarinya menunjuk ke arah Friegen. "Tentang keadaan sekarang."
Dan tiba-tiba tubuh Friegen hancur, hanya menyisakan sesuatu yang nampak seperti pinggul dan kakinya. Darah mengguyur lantai istana, cipratan darah membercak di wajah Ivan yang berada di sebelah Friegen. Menyadari yang terjadi pada koleganya, Ivan membelalak. Ia terpaku.
"Ivan," panggil si pemimpin.
"Ah..." Ivan masih belum tersadar sepenuhnya. "Ya, Yang Mulia!!"
"Aku tak punya alasan untuk memuji atau menyalahkanmu." Si pemimpin masih duduk di atas tahtanya. Ia belum melangkah sedikit pun sejak pertama kali memotong lengan Friegen."Tindakanmu cukup untuk memperlambat Kurosaki Ichigo," ujarnya.
"Err... Ah..." Ivan terbata-bata, tak tahu harus berkata apa, "Terima kasih banyak!!" Akhirnya itu yang terucap darinya.
"Tugasmu selesai."
Si pemimpin kembali mengangkatjarinya. Ia tampak mengulang pola yang sama seperti yang ia lakukan pada Friegen.
"Kau bisa menjadi... Batu pondasi untuk menciptakan perdamaian."
Ivan membelalak, sadar apa yang akan terjadi padanya. "Tida--!"
Namun terlambat. Darah kembali tergenang di atas lantai.
"...Apa begitu tidak apa-apa?" salah satu sosok bertopeng yang pergi bersama Friegen menimpali si pemimpin.
"Apanya?"
"Bukannya arrancar adalah prajurit yang berharga karena takperlu diajarkan untuk bertarung?"
Si pemimpin hanya tersenyum mengerikan.
"Aku tak peduli."
Ia beranjak dari tahtanya. Di saat bersamaan, tahtanya tampak hancur menjadi materi baru, membentuk sebuah tangga yang melayang.
"Kalau aku butuh arrancar, aku bisa mendapatkan sebanyak pun yang kumau." Si pemimpin perlahan menapak anak tangga tersebut. Di ujung tangga itu, tampak sebuah pintu menuju suatu ruangan. Si pemimpin berjalan ke sana, menyibak sesuatu yang diselimuti tirai.
Tampaklah sosok Tier Harribel, Espada yang selamat dari pertempuran di Kota Karakura.
Namun di sini ia tampak tidak berdaya. Meskipun tampak dalam wujud resurreccion, ia bersimpuhlemas; kedua lengannya diikat jeruji besi. Salah satu kulit hollow di lengannya terlepas. Dari mulutnya mengalir darah. Matanyaterpejam.
"Hueco Mundo sudah jadi wilayah kita," ujar si pemimpin.
"Itu hanyalah batu pondasi lain... untuk menginvasi Soul Society."
===========================
BERSAMBUNG >>> 486
===========================

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar disini, dan gunakan bahasa yang baik dan benar, dan juga saya beritahukan blog ini DOFOLLOW.