Laman

April 02, 2013

alur chapter bleach 531 versi teks 532

Bleach 531
Everything But The Rain Op. 4
====================

Sang Juubantai Taichou, Shiba Ishiin, yang pergi ke Kota Karakura tanpa pemberitahuan pada pihak Soul Society itu akhirnya bertemu dengan sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Reiatsu yang terasa seperti milik hollow tiba-tiba terasa begitu pekat bersamaan dengan hilangnya reiatsu dua shinigami yang sedang tak berada jauh di tempatnya berdiri.

Tapi, sebelum dia melangkahkan kakinya lebih dekat, sesosok makhluk seperti manusia muncul begitu saja di belakangnya. Berambut panjang, sebuah topeng dengan tanduk yang menjulur ke depan menghiasi kepalanya. Sebuah lubang yang terdapat di dadanya sebenarnya telah menunjukkan bahwa makhluk itu adalah seekor hollow. Namun, ada sesuatu yang berbeda dengan mahluk bertangan tajam berbetuk bak pedang itu. Lubang di dadanya tak seperti hollow seperti biasanya. Bahkan, lubang di dadanya itu tertutup oleh sesuatu, terlihat seperti daging yang menggumpal. Iya, tak ada lubang di tubuhnya.

"Apa itu...?" Ucah Ishiin sembari menggertakkan giginya. "Hollow... ...Berwarna hitam?

Iya, tak ada yang salah dengan pandangan sang taichou itu. Berdiri tepat di depannya seekor makhluk yang berbentuk seperti hollow --memakai topeng putih-- dengan tubuhnya yang serba hitam. Tak ada warna lain yang menghiasi tubuh sang makhluk itu. Sang makhluk hanya terdiam, dengan matanya yang tajam menyipit tepat mengarah sosok shinigami berhaori di depannya, mulutnya tiba-tiba berteriak dengan kerasnya, seolah dia mengatakan 'kaulah mangsa selanjutnya' pada orang itu.

Seolah terancam dengan teriakan makhluk di depannya, tangan Ishiin dengan cepat mengeluarkan zanpakutou dibalik saya-nya. "Warnanya memang hitam... Dan lubangnya tertutup... Tapi reiatsu-nya jelas reiatsu hollow...!" Walau begitu, mulut shinigami ini menyeringai, terlihat begitu senang karena telah menemukan sumber bahaya selama ini.

Sedetik kemudian, kaki hollow itu menapak begitu keras pijakannya dan langsung melesat, mencoba menyayat tubuh shinigami berhaori itu dengan kedua tangannya yang berbentuk pedang. Tak tinggal diam, dengan cepat Ishiin menggunakan pedang tersegelnya untuk menghalau tebasan yang mengarah padanya. Sebuah benturan benda tajam tak terelakkan. Namun, ini masih awal dari pertarungan sengit yang akan dihadapinya.

====================

Di tempat lain, di Soul Society. Sang Gobantai Taichou, Sousuke Aizen, Sanbantai Taichou, Ichimaru Gin dan Kyuubantai Taichou, Kaname Tousen, tak ada yang mencurigakan dari apa yang mereka lakukan di sebuah ruangan itu. Namun, layar yang berpendar di depan mereka sungguh berkata lain. Iya, sebuah pertarungan antara shinigami dan hollow terlihat jelas di sana. Pertarungan antara Ishiin dan dan hollow tanpa lubang di tubuhnya itu seolah tontonan siaran langsung sepak bola di dunia manusia bagi mereka. 

"Mengejutkan. Taichou Divisi 10. Kenapa dia di sana?." Ucap Aizen sambil menyimpulkan senyum tipis, seolah mengatakan kalau ini benar-benar tontonan yang menarik.

" Dia tidak melaporkan keberangkatannya." Jawab Tousen

"Oh. Pergi tanpa izin toh. Bakal masalah tuh.." Sambung Gin

"Tapi tak apa. Panen yang tak terduga. Aku mau lihat lebih dekat. Bisa?" Ucap Aizen kemudian.

...

Kembali ke Dunia Manusia, namun kali di kediaaman Ishida, kota sebelah Karakura, Naruki. Masaki yang sedari tadi tak bisa tidur, tiba-tiba merasakan tekanan yang begitu kuat dari luar sana.

" Aku merasakan... reiatsu yang sangat kuat semakin dekat... Hollow dan... satu lagi..."

Tanpa pikir panjang, sang gadis ini langsung berlari keluar kamarnya.

" Mau ke mana? Masaki.."

Kaki kecilnya terhenti mendengar suara laki-laki yang menyapanya tiba-tiba. "Ryuu-chan..."

" Mungkin sebenarnya tak perlu kutanyakan. Jangan." Ucap Ryuuken dengan nada sopan seperti biasanya. "Sudah berapa kali kubilang? Kita, Quincy, cuma perlu bertindak setelah shinigami mati. Itu pun yang bertindak adalah Gemischt --darah campuran-- seperti Katagiri. Masaki. Kau harus lebih sadar posisimu.Kau paham, kan? Kau harus lebih perhatian pada dirimu sendiri. Kita, Echt Quincy --Quincy murni-- sebaiknya tidak membuang-buang nyawa semudah itu."

"Tapi, Ryuu-chan..." Bentak Masaki tak seperti biasa. Nada tingginya bergema di lorong tempat mereka berdiri. Wajah Masaki benar-benar serius, berbeda dengan wajah yang biasa dia tunjukkan. Kakinya langsung kembali melangkah cepat, meninggalkan pemuda berambut perak itu.

"Tunggu, Masaki!!." Teriak Ryuuken.

Gadis itu kembali menghentikan kakinya.

"Ryuu-chan, Kau tahu kebiasaanmu untuk lebih mementingkan tante, Quincy, masa depan, dan banyak hal lain sebelum kau mengambil tindakan. Itu adalah hal yang kusukai darimu. Tapi aku beda denganmu. Bagiku, "memperhatikan diriku sendiri" artinya adalah melakukan apa yang bisa kulakukan, setiap hari. Kalau hari ini aku tak bisa melakukan apa yang seharusnya bisa kulakukan cuma karena "tradisi" dan ada yang mati karena itu aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.." Ucap Masaki sebelum berbalik dan kembali melangkah, menghilang dari pandangan putra Ishida itu.

"Katagiri. Saatnya pergi. Siapkan zirah reishi.." Perintah Ryuuken pada akhirnya.

...

Langit malam masih menitikkan tetesan-tetesan hujan, membasahi pertarungan kedua makhluk yang pada dasarnya memang adalah musuh. Shinigami dan Hollow, memang sejak awal keduanya memang terlahir dan tercipta sebagai musuh yang tak pernah damai. Hollow memang tercipat untuk disucikan oleh para dewa kematian. Namun, mereka tak akan pernah diam begitu saja, mereka akan mempunyai akal dan pikiran seiring dengan perkembangan mereka. Hingga, mereka berhasil mempunyai kekuatan yang bahkan lebih besar dari seorang shinigami untuk melawannya. Seperti Hollow yang sedang dilawan oleh kapten divisi sepuluh ini.

Sosok hitam ini terbilang cukup kuat untuk sebangsa hollow. Tangannya berhasi menghempas tubuh Ishiin cukup jauh dari pijakannya. Sebuah tebasan terarah pada sang kapten divisi sepuluh begitu saja, serangannya membabi buta, tak memberi celah pada sang taichou untuk melayangkan sebuah serangan balasan.

"Shiba-taichou?!!." Sebuah teriakan menghentikan pertarungan keduanya. Keempat mata langsung tertuju pada seorang shinigami yang berlari ke arah mereka. "Apa yang anda lakukan di sini?! Kota Karakura ada di bawah wewenang Divisi 13!." Teriak pemuda yang berpakaian seragam shinigami itu.

"Sial.." Teriak Ishiin sambil mencoba menahan gerak sang Hollow. Namun, sia-sia, hollow berwarna hitam itu langsung melesat ke arah shinigami yang baru datang itu. Tepat di depan tanduknya tercipta sebuah bola cahaya, berpendar perlahan hingga membentuk sebuah gumpalan yang terlihat padat. "Lari!!"

Buuuum..

Terlambat, sebuah ledakan terdengar begitu keras ditengah sepinya malam di atas kota tenang itu. Terlambat, shinigami muda itu telah hilang tanpa bekas sekalipus. Tak ada sisa jasat yang terlihat di sana. Ledakan itu benar-benar telah melenyapkan tubuhnya.

"Apa-apaan itu pasti bukan hollow. Bukan begitu caranya Menos bertarung...!!" Tak mau berpikir lebih lama lagi, sang kapten ini langsung melesat ke arah sang hollow, melayangkan sebuah tebasan tepat ke kepalanya. Namun tak akan semudah itu, dentingan pedang yang beradu kembali terdengar sebagai pertanda sang hollow berhasil menghalaunya.

"Hei. Mustahil monster sepertimu bisa ada tanpa diketahui Soul Society. Pasti ada yang merahasiakanmu. Siapa di balik ini?." Ucap Ishiin. Tetap saja tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut hollow itu sebagai jawabannya. "Jelas tak akan kau jawab ya. Bukan urusanku. Kau jawab atau tidak. Kau akan tetap kutebas."

Juubantai Taichou itu melompat mundur, mengambil jarak dengan sang lawan. Dia tidak sedang lari, tentu saja, di sedang mempersiapkan cara untuk menghabisi sang lawan. Kedua tangannya menggenggam erat gagang zanpakutounya.

"Terbakarlah Engetsu!!!!" Sekejap tekanan reiatsu di sekitarnya memberat. Tak ada yang berubah dari bentuk pedangnya setelah dia membangunkannya. Hanya saja sebuah kobaran api membara dari arah Yaiba-nya. Bilah tajam Engetsu itu benar-benar terselimuti oleh kobaran api yang siap menghanguskan sang lawan.

Dengan cepat Ishiin melesat ke arah sang hollow hitam itu. Namun, tak seperti yang dia rencanakan, tiba-tiba tubuh sang kapten ini tertebas begitu saja dari belakang, menghilangkan kesadarannya secara perlahan.

"Apaa..."

Dia tahu kalau bukan hollow itu yang melakukan itu, sosok hitam itu masih terdiam di tempatnya. Namun, pemuda divisi sepuluh itu tak bisa merasakan reiatsu seseorang di belakangnya. Tentu saja, dia tak akan pernah merasakan seorangpun dibelakangnya, karena sang pelaku mengenakan pakaian yang bisa menyembunyikan pancaran reiatsunya, pakaian yang pernah diciptakan oleh Kisuke Urahara beberapa puluh tahun lalu. Namun, sosok itu bukanlah sang mantan Juunibantai Taichou itu, melainkan sang Gobantai Taichou, Sousuke Aizen.

Mulutnya tersenyum tipis, licik, seolah puas menyaksikan sang pengganggu itu roboh tepat dihadapan kedua mata tajamnya.


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar disini, dan gunakan bahasa yang baik dan benar, dan juga saya beritahukan blog ini DOFOLLOW.