Laman

Juni 28, 2012

Alur Chapter Bleach 498

BLEACH498.The Black Rescuer

"Perintah dari wakil-kepala Akon! Sambungkan dengan Kurosaki Ichigo!!"

"Caranya?!"

"Bodoh! Dia punya lencana shinigami pengganti, kan?! Sambungkan ke situ!!"

Kegaduhan masih terjadi di Institut Riset & Pengembangan. Jari-jemari petugas yang diperintahkan untuk menghubungi Kurosaki Ichigo tadi pun segera berjentik cepat; mengetik tuts komunikasi institut. Namun tidak lama baginya untuk mengernyitkan dahi, menemukan keanehan.

"Kenapa?" menyadari reaksi bawahannya, Akon segera menimpali.

"Aneh..." ujar pria berkacamata itu, "Lencana shinigami penggantinya ada di dunia manusia...
Tapi Kurosaki Ichigo tidak di situ..."

Akon terdiam sejenak.

"Jejak rohnya," lanjut pria itu, "Mengarah ke Hueco Mundo!"

Sontak anggota tim lain menanggapi.

"Konyol sekali..."

"Kenapa dia ke Hueco Mundo?!"

"Apa yang dia lakukan?!"

Situasi di ruang itu, yang memang sudah gaduh dan tidak tenang sejak hilangnya roh-roh di Rukongai beberapa hari sebelumnya, hanya diperburuk dengan kabar barusan. Akon, yang bertanggung jawab saat ini, masih terdiam.

"Di sebelah mana lencana shinigami penggantinya?" tukas Akon, mencoba tenang.

"Lencananya ada di markas Urahara Kisuke, Urahara-shoten!!" jawab bawahannya. "Karena ada gangguan dalam gelombang roh, kurasa lencananya ada di bawah tanah!"

"Sudah kuduga... Jadi Urahara Kisuke bersamanya."

Akon kembali terdiam sejenak. Kemudian tanpa ragu menambahkan, "Sambungkan dengan Urahara." Urahara Kisuke, ketua Institut itu dulu.

...

"Pipipip!"

Dering telepon berbunyi dari balik kantong Urahara. Urahara yang sedang berada di Hueco Mundo, sedang menyaksikan dari jauh pertarungan Kurosaki Ichigo.

"Halooooo?"

Telepon itu diangkat.

"Ah, halo Akon-san!" jawab Urahara santai, "Apa kabar? Eh? Kabarku? Yah..."

"...Kau dengar tidak, sih?!"

Dari balik seberang telepon, yang didengar Urahara adalah tanggapan kesal.

"Barusan kubilang ini keadaan darurat!!" suaranya terdengar gusar. "Aku tidak menanyakan kabarmu!!"

Di Institut Riset dan Pengembangan, raut wajah Akon berbalik 180 derajat sedari tadi. "Aku ada perlu dengan Kurosaki Ichigo!!" lanjutnya lagi, "Dia ada di sana, kan?! Sambungkan dengannya!!" Yang tadinya tenang dan penuh perhitungan tampak begitu kesal...

"Kekaleman Akon-san hancur total..." timpal Rin, salah satu anggotanya.

"Yang bisa melakukan hal itu cuma taichou atau orang itu..."

Sementara itu, agaknya Urahara masih menjawabnya dengan nada santai.

"Kurosaki-san?" timpal balik Urahara, "Mustahil."

"Kenapa?!"

"Sekarang Kurosaki-san sedang... bertarung dengan seorang Quincy yang menyebut dirinya kapten Jagdarmee Hueco Mundo."

Mendengar ucapan Urahara barusan, raut wajah Akon kembali berubah. Yang tadinya gusar, kembali dilanda keterkejutan. Dan ucapan Urahara barusan juga terdengar ke seantero anggota tim yang lain.

"Apa?!"

"Dia melawan QUincy di Hueco Mundo?!"

"Apa yang terjadi?!"

Hiruk-pikuk kembali memenuhi suasana ruangan kerja Akon itu. Sang wakil-kepala Institut Pengembangan dan Penelitian terdiam, untuk waktu yang tidak sebentar. Di kepalanya berputar banyak hal.

"Para Quincy bahkan sudah bergerak di Hueco Mundo," batinnya. "Kurosaki Ichigo menyadari hal itu dan bergerak lebih dulu daripada kita?! Konyol sekali!!"

Ia masih terlarut dalam pikirannya.

"Aku sudah sering dengar cerita tentangnya..." batin Akon. "Tapi tak pernah kukira dia bisa semengejutkan ini..."

Akon masih terdiam. Mengetahui fakta bahwa Hueco Mundo pun sudah dikuasai Quincy, dan lebih-lebih, bahwa mereka--Institut Penelitian dan Pengembangan--terlambat mengetahuinya, agaknya sangat mengejutkannya. Matanya melotot. Wajahnya tampak pucat. Keringat merembes dahinya. Namun ia tak bisa mendiamkan orang yang di balik telepon.

"Jadi..." ujarnya terbata," Bagaimana pertarungannya?"

"Sekarang seimbang... oh, bukan," Urahara mengoreksi, "Kurosaki-san sedang menekannya."

...

"Si... Siaaaalll!!!"

Sebuah suara menggeram keras.

"Aku tidak bisa!!"

Pemilik suara itu bukan lain adalah Kirge Opie. Sang Quincy yang tubuhnya membesar dan berupa monster, yang sedari tadi dengan ringan tangan melibas lawan-lawannya, sekarang tampak kepayahan.

"Si musuh," ujar Urahara pada Akon, mengamati dari jauh, "Kelihatannya mau menyegel bankai Kurosaki-san atau semacamnya."

"Tapi," Urahara melanjutkan, "Penyegelennya tidak berhasil."

"Apa?! Tidak berhasil?!"

Sekali lagi Akon dibuat terkejut. Bila Akon menderita sakit jantung, mungkin hari itu adalah hari terburuknya. Matanya kembali dibuat melotot--namun alih-alih penuh keputusasaan seperti tadi, agaknya kini harapan timbul di dirinya. Bibirnya segera terbuka, mengatakan sesuatu...

"Eh?" balas Urahara pada Akon. Entah apa yang Akon katakan barusan.

"Yang benar saja," lanjutnya, "Ini bukan pertarungan yang bisa seenaknya diikutcampuri."

Sementara Urahara bicara dengan Akon, ledakan besar dan hiruk-pikuk pertarungan Ichigo terjadi tepat di belakangnya.

"Kau bicara sama siapa?!" timpal Pesche, melihat Urahara yang begitu santai bak sedang mengobrol di tengah taman, "Kau santai sekali sih!! Gila ya?!"

Tak menghiraukan Pesche, Urahara kembali bicara dengan Akon.

"Kau tahu kekuatan musuh, 'kan?"

"Aku tahu ada ryoka di Soul Society," lanjut Urahara, "Kalau kau sampai menghubungi kami, pasti situasinya sudah di luar kendali."

Urahara terdiam sejenak. Raut wajahnya berubah lebih serius.

"Kembali ke pertanyaanku tadi," ujarnya. "Bagamana kabarmu di sana?"

...

Opie berlari. Tidak, mungkin lebih tepatnya, terbang melayang. Nafasnya tersengal-sengal. Dahinya mengernyit. Di benaknya penuh kekhawatiran.

"Aku dapat kabar bahwa aku tak boleh membiarkannya menggunakan bankai."

Ia membatin.

"Berhubung aku tak bisa mengambil bankai-nya, seharusnya kemampuannya cuma sampai di situ."

Matanya, yang meskipun kini bergaris-garis banyak seperti halnya lampu sonar, tampak memancarkan ketakutan.

"Tapi kenapa..."

Masih membatin.

"Kenapa dia..."

Terus membatin.

"Kenapa dia bisa melawanku... Semudah itu?!"

Kurosaki Ichigo melompat di hadapan Opie. Sebelah tangan si shinigami menggenggam erat Tensa Zangetsu, terangkat ke atas. Bilah pedang hitam itu, yang tipis dan mematikan, tampak siap untuk menebas lawannya. Raut wajahnya tanpa pengampunan.

Pedang terayun.

Ledakan besar kembali terjadi, untuk kesekian kalinya.

Dari balik asap dan debu, Opie bergerak mundur. Lengan kanannya terangkat, membentuk partikel spiritual berwujud setengah lingkaran. Dari partikel tersebut terpancar enam tombak spiritual menyerupai panah.

Tombak-tombak itu melaju kencang ke arah Ichigo. Namun dengan kecepatan yang tinggi, si shinigami pengganti menebasnya satu per satu.

Di hadapan serangan yang sia-sia, Ichigo menatap lawannya dengan tajam.

"Kalau tak salah," ujarnya, "Orang yang sempat bertemu denganku juga mau menyegel bankaiku."

"Kalian. Kenapa sebegitu inginnya menyegel bankai?"

Opie tersenyum. "Ha!" Miris ketika kekalahan tampak berada di ujung tanduknya. "Aku tak harus memberitahumu."

Sementara ia tampak percaya diri, di dalam batinnya ia menyadari keterbatasannya.

"Ini gawat!" batin Opie, "Kekuatan serangannya memang berbahaya... tapi kecepatannya itulah yang paling berbahaya!"

Opie memutar otak. Ia merencanakan langkah-langkah, berupaya mencari jawaban atas masalah. "Aku tak bisa merespon kecepatan serangannya kalau aku tak membuka vena blut-ku terus menerus..." kembali ia membatin, "Tapi kalau vena blut-ku terbuka, aku tak bisa mengalirkan arteri blut-ku!!"

Ia terdiam. "Dan serangan tanpa arteri blut... Tidak bisa menang melawan bankai!!" Opie menatap lawannya yang kini tampak di atas angin. Quincy yang tadi sempat pongah, agaknya sekarang kewalahan...

"Apa mungkin..."

Ichigo angkat bicara, melihat lawannya yang terdiam; sibuk dengan pikirannya sendiri.

"...Kalian takut bankai?"

"M... Mustahil!!"

Opie menjerit geram.

"Vandenreich tidak takut apa pun!!"

Jleb! Dan sesuatu mendadak menusuk dadanya. Darah merembes dari mulut Opie.

"Syukurlah..." ujar Urahara, pelakunya. "Karena Kurosaki-san, jiwa si musuh sudah melemah. Aku bisa melukainya dengan fatal."

Entah melumpuhkan si Quincy dengan apa, Urahara akhirnya turun ke medan pertempuran, keluar dari tempatnya. Tapi tentunya bukan tanpa alasan. Sebelum sempat ditanggapi oleh Ichigo, ia melempar telpon genggamnya ke si shinigami pengganti.

"Situasi darurat," ujarnya. "Tolong segera pergi ke Soul Society."

Tangannya dengan cepat bergerak. Sebuah gerbang antar-dimensi yang sangat besar segera terbuka di samping Urahara.

"Aku sudah membuka pintu antara-dunia. Tolong dengarkan detilnya dari Akon-san."

Ichigo, masih tampak ragu-ragu, mengangkat telepon genggam itu.

"Ini Kurosaki Ichigo?" Samar-samar, suara dari seberang terdengar. "Tolong dengarkan aku baik-baik..."

...Sejumput harapan bagi Soul Society...

Bersambung >>> chapter Bleach 499

Comments
2 Comments

2 komentar:

Mantap gan kalo bisa kunbal ke blog ane deh jufri.mywablog.com/ oke

ane langsung ke tkp :)

Posting Komentar

silahkan komentar disini, dan gunakan bahasa yang baik dan benar, dan juga saya beritahukan blog ini DOFOLLOW.