Laman

Juni 07, 2012

Alur chapter Bleach 495

Bleach 495. Bleeding Guitar Blues
Sumber:bleachindonesia.com
===========================


"Di distrik 3, Nagareo, titik utara 3032... 27 serdadu tewas!"

Sebuah suara mengudara.

"Reiatsu dari Togakushi-daisanzeki, Gori-daigoseki, dan Katakura-dairokuseki menghilang!!"

Suara itu masih mengudara.

"Terlebih... Reiatsu Kira-fukutaichou juga menghilang!!"

Diliputi kepanikan.

"Jadi begitu..."

Sebuah suara lain menimpali. Menutup suara yang mengudara sedari tadi.

"Dimengerti."
bl
Suara itu menutup panggilan. Pemilik suara itu ialah seorang pria, berambut pirang panjang, berhaori putih, berdiri tegap. Di tengah tumpukan jenazah rekan-rekannya yang tewas. Di tengah medan pertempuran di Soul Society. Menggenggam erat zanpakutou-nya. Dengan perasaan yang bercampur aduk.

Otoribashi Rojuro, taichou divisi tiga. Rose, panggilannya. Matanya menyorot tajam seseorang di seberangnya.

"Kedengarannya bukan kabar baik," ujar seseorang itu. "Apa ada yang mati?"

"Tidak perlu dijawab."

Seseorang itu tersenyum. "Pasti ada. Ada reiatsu yang menghilang di tempat Buzzbee," senyumnya menunjukkan gigi-giginya yang kotor, "Kalau dia tidak mati, berarti Buzzbee gagal."

Seorang berperawakan kurus, berambut jigrik, mengenakan kacamata besar menyerupai visor. Sang Quincy, Sternritter "U", NaNaNa Najahkoop. Ia meringis, menatap sang shinigami di hadapannya.

"Apa kau mencoba mencari kesalahan dari rekanmu?" Rose bertanya, gusar. "Itu bukan seni."

Rose melangkah. "Melihat Izuru benar-benar membuatku terinspirasi," ucapnya bak mengenang wakilnya itu, "Ketika aku dekat dengannya, aku bisa bermain gitar dengan melodi yang mengalir bak air mata. Bila dia wafat, aku dan Flying V-ku bisa jadi sangat sedih."

Najahkoop bergeming. "Maaf, aku tidak mengerti seni," tukasnya singkat.

"Tapi jangan khawatir..." si Quincy kembali meringis. Gigi-gigi hitamnya buruk menampakkan dirinya lagi. "Kau dan V apalahmu tadi... tak akan sempat menangis. Kau akan mati dalam 5 menit."

Sorot mata Rose belum berubah. "Itu sama sekali bukan seni." Ia melangkah lagi. "Tidak ada satu pun gitar yang tidak menangis... di depan kematian begitu banyak rekan." Sorot matanya semakin menajam. Bila ada di sana, mungkin seseorang bisa merasakan getaran reiatsu-nya. "Aku dan gitarku sudah menangis," ujarnya. Terhenti sesaat.

"Jangan kira kau bisa keluar hidup-hidup, Quincy."

...

"Hiiii!!"

"Monster macam apa itu?!"

Di sudut lain, satu per satu shinigami berguguran. Tertusuk jarum tajam yang berkilauan. Terbantai tak berdaya. Tak mampu berbuat apa-apa. Di hadapan mereka, seorang Quincy berambut hitam panjang. Matanya tak mencerminkan warna maupun rasa, hanya hampa. Topeng hitam berduri membalut separuh wajahnya. Di hadapan para shinigami itu, ialah Sternritter "F", As Nodt.

"Serangan kita tak mempan sama sekali..." ujar salah satu shinigami, tergugup. "Tapi yang tertusuk duri bercahaya itu bisa langsung mati..." Matanya yang diselubungi ancaman kematian menatap durja rekan-rekannya yang terbantai, begitu saja, tepat di depan matanya. Satu per satu tewas, seraya Nodt sang Quincy semakin mendekat.

"Dan..." ia berupaya berkata-kata, namun terbata-bata, "Dan kenapa..."

"Kenapa semua yang sekarat berteriak seperti itu?!"

Jeritan penuh siksa terdengar dari tubuh rekan-rekannya. Mereka yang terbunuh oleh Nodt, melayang di udara, seakan terpancung oleh jarum tajam berkilauan itu. Tubuh mereka mungkin tak lagi bernyawa, namun jeritan penuh nestapa terus melekingkan rasa. Memenuhi udara di sekitar mereka dengan ancaman yang pekat. Sementara Nodt, tanpa bersuara, terus melangkah mendekat.

Rekan-rekan shinigami lain berhamburan. "UWAAAHHH!!!" Berteriak penuh ketakutan, berusaha menyelamatkan nyawa mereka yang berharga.

"Jangan!!" seorang dari mereka berusaha bertahan. "Jangan lari!!"

Perintahnya bak angin yang cepat berlalu. "Kewajiban kita sebagai Gotei 13 bukanlah melindungi diri sendiri!!" ia kembali menyahut, sementara hanya dijawab oleh langkah kaki rekan-rekannya yang terus menjauh. "Tapi adalah mengorbankan nyawa kita untuk melindungi Seireitei!!" ia kembali menegaskan, namun telinga rekan-rekannya tertutup oleh rasa takut yang semakin mencekam.

As Nodt semakin mendekat. Kini ia sendirian. Matanya penuh ketakutan, namun bibirnya berusaha meredamnya. "Jangan lari!!!!" Ucapannya tiada yang menggubris. Sementara udara semakin pekat--ajal baginya barangkali sudah dekat. As Nodt hanya beberapa langkah darinya.

Brak!

"Kalimat yang bagus."

Sebuah pedang yang memanjang layaknya cambuk memisahkan jarak antara si shinigami dengan si Quincy. Memisahkan jarak antara hidup dengan mati. Sang pemilik pedang, juga sang pemilik suara yang datang di ujung ajal, berdiri tegap di antara tembok rendah Seireitei. Berambut merah, bertato hitam. Abarai Renji, fukutaichou divisi lima.

"Mundurlah dan serahkan ini padaku."

...

Di satu sudut yang lain, tubuh-tubuh shinigami terbelah begitu saja. Sebelum mereka sempat memejamkan mereka, nyawa mereka direnggut oleh tebasan reiatsu. Sebelum jantung mereka sempat berhenti berdetak, nyawa mereka sudah melayang. Seorang Quincy, bertopi putih, bersabuk bentuk hati, yang bertanggung jawab dalam kekejaman ini. Sternritter "E", Bambietta Basterbine. "Yaaaah!" Ironisnya, ia melakukan dengan senyum dan penuh semangat.

Sebuah tangan besar menghentikan tindak kekejaman gadis itu. Tangan besar yang kuat namun juga lembut. "...Bahkan ada wanita di antara tentara pemberontak ini...!" Komamura Sajin, taichou divisi tujuh.

Bambietta terdiam sejenak, namun tidak berhenti bertindak. "Jadi seekor anjing pun bisa jadi taichou?" balasnya, singkat. "Soul Society pasti kekurangan orang!"

Di masing-masing titik lain, tiap Sternritter akhirnya berhadapan dengan tiap taichou dan fukutaichou.

Hisagi Shuuhei, dengan seorang Quincy berbadan besar dan berjanggut. Kyouraku Shunsui, dengan Quincy berkumis dna berkacamat. Soi Fong, dengan Quincy bertopeng putih. Ukitake Juushirou, dengan Quincy berambut hitam berantakan. Hitsugaya Toushirou, dengan Quincy di kejauhan. Pedang akan bertemu. Bentrokan spiritual akan terjadi.

Sternritter harus dihentikan.

...

Panel kembali ke sisi Renji. Fukutaichou berambut merah itu tampak sudah bertarung dengan Nodt. Namun usahanya nampak belum menemui hasil.

"Seranganku tak ada yang mempan!" batinnya. "Apa ini kemampuannya? Atau karena dia adalah Quincy?!"

Matanya yang jeli berupaya mengamati di mana letak kesalahannya. Renji melihat ada sesuatu yang aneh. "Setiap kali dia menangkis... ada sesuatu yang muncul di tangannya." Semacam tanda. "Aku akan coba serang lebih cepat," batinnya, dan kemudian ia segera mengubah langkah.

Mendadak seorang pria bertopeng bak pegulat menghampiri Renji dari belakang. Tinjunya berupaya menghantam si fukutaichou, namun Renji sempat menghindar salto--membablaskan tinju pria itu ke tanah. Sebelum sempat menapak, pria itu kembali meluncurkan tinju dari tangannya yang lain. Renji tak berkutik!

Namun kumpulan kelopak pedang menahan tinju pria bertubuh besar itu.

"Jangan hanya menunggu dan mengamati, Renji." Sebuah suara yang akrab terdengar. "Tidak perlu berwelas asih."

Langkah yang tenang, diikuti dengan kelopak pedang yang berguguran. Suara yang datar namun mampu mengancam lawan-lawannya. "Mereka berusaha menghancurkan Soul Society tanpa welas asih. Mereka jelas adalah musuh," ujar suara itu.

Kuchiki Byakuya datang membantu wakilnya yang kesulitan.

"Hancurkan mereka."
===========================
BERSAMBUNG >>> 496
===========================

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar disini, dan gunakan bahasa yang baik dan benar, dan juga saya beritahukan blog ini DOFOLLOW.