Laman

November 08, 2012

Alur cerita Bleach chapter 515 veri teks 516

Bleach Chapter 515
sebelumnya
Tak ada yang mengerti apa yang diucapkan Juha Bach, Ichigo hanya bisa terdiam, memandang dari belakang sosok yang baru saja mengatakan dirinya adalah ayahnya. Tak ada yang mengerti tentang ucapan Juha Bach, bahkan bagi Ichigo sekalipun.
Bleach Chapter 515
Relics
Foto: Chapter 515. Relics [Text Version]
............

Pertempuran telah berakhir. Para Quincy telah kembali ke markasnya, meninggalkan kepedihan yang begitu mendalam bagi para shinigami. Seireite benar-benar hancur, gedung-gedung roboh, rata dengan tanah. Tak sedikit shinigami yang menjadi korban dalam pertempuran ini. Banyak dari mereka yang harus menderita, banyak dari mereka yang mengalirkan air mata, banyak dari mereka yang meraung kesakitan. Dan tak sedikit pula dari mereka yang terbujur tak bergerak, berpisah dengan nyawanya. 

Sousuke Aizen, entah bagaimana jadinya bila seorang pengkhianat ini tidak menggunakan kekuatannya pada Juha Bach. Mungkin Seireite akan lebih hancur dari ini, mungkin akan lebih banyak korban yang terjatuh karena perang ini. Secara tak langsung, dialah penyelamat Seireite dari kehancuran, kali ini.

Langit masih menangis, membasahi semua roh berpakaian hitam yang dilanda kepedihan dibawahnya. Menyaksikan runtuhnya pertahanan yang tak pernah goyah selama ribuan tahun. Seolah langit Soul Society juga tak rela dengan keguguran para dewa penjaga keseimbangan dunia itu.

Di bawah tetesan-tetesan hujan itu, pada shinigami divisi empat melakukan tugasnya. Memberikan kemampuan mereka yang mereka punya. Divisi yang dianggap paling lemah itu kini berjuang, mencoba menyelamatkan banyak nyawa yang mereka bisa. Mencoba mengurangi air mata yang mengalir karena kematian. 

"Kelompok dari tim 11 sampai tim 16, pergi menuju Distrik Timur 56! Yang lainnya ikut denganku!" Suara Iemura, salah satu Buntaichou di Yonbantai terdengar begitu tegas. "Kita urus jenazahnya nanti! Sekarang utamakan yang terluka!"

Para bawahannya segera sigap menjalankan perintahnya. Ini bukan latihan, kini mereka benar-benar berhadapan dengan sesuatu yang mengerikan. Mungkin, baru kali ini mereka menghadapi keadaan seperti ini. Mereka tak mau lengah sedikitpun. "Keadaan darurat! Mohon sediakan tempat!!"

"Baik! Bawa mereka ke kamar 303!!"

Di dalam gedung Yonbantai, Isane dan Unohana terdiam di sana, menatap penuh pedih ke luar sana, ke tempat dimana seharusnya mereka berada. Tak hanya terdiam seperti ini. Namun, mereka harus melakukan itu. 

"AkhirnyaYang terluka mulai diurusi... Pada akhirnya, selama pertempuran tak seorang pun dibawa ke sini..." Ucapan Isane begitu pelan. Keadaan kembali hening. "Unohana-taichou,  apakah keputusan tepat kita berdiam di sini selama pertempuran...? Seandainya kita ke Seireitei, kita seharusnya bisa menyelamatkan..."

"Isane, jangan mengambil keputusan berdasarkan perasaanmu. Memang mudah bagi kita untuk khawatir dan turun ke medan perang. Tapi, biasanya kau tak seperti ini, sampai-sampai harus kujelaskan kenapa sebaiknya kita tak melakukan itu." Balas Unohana sambil menatap hujan.

"Iya... Aku... Minta maaf...!" Air mata Isane mengalir membasahi pipinya. Dia terlihat tak kuat melihat keadaan ini. Batinnya pun tergerak berucap, "ku benar-benar bodoh. Unohana-taichou jelas ingin menyelamatkan semua orang lebih dari yang ingin kulakukan...!"

"Jangan menangis, Isane. Apa pun yang terjadi Jangan tinggalkan tempat ini. Itu perintah terakhir yang diberikan soutaichou."

Beralih ke Rumah Sakit Seireite. para shinigami di sana tak kalah sibuk dengan para shinigami yang bertugas di luar. Mereka sama-sama terlihat begitu sibuk dengan pekerjaan mereka saat ini. Seseorang dari Pusat Penelitian dan Pengembangan mendekati pada Ichigo yang berdiri di koridor, membawa berita yang cukup baik untuk didengar.

"Ini. Menurut pesan yang dikirimkan Urahara Kisuke dari Hueco Mundo.Urahara Kisuke, Inoue Orihime, dan Sado Yasutora, semuanya aman.Kami belum mendapatkan pesan suara. Tapi kami akan mengabarimu sesegera mungkin bila sudah dapat." 

"...Begitu... Baguslah."

"WOOOOOAAAHH!!" Terdengar teriakan shinigami yang berteriak. Tidak bisa menerima semua keadaan ini. "Tak mungkin taichou terbunuh!! Tak mungkin...TAICHOU!!!!!"

"Jangan! Mohon tenang!" Salah seorang shinigami Yonbantai mencoba menenangkannya" Tenang! Seseorang ambilkan penenang!!"

" Ichigo-san!!! Ichigo-san, ayo ke sini! Kau akan kuobati!!" Suara yang cukup familiar terdengar oleh telinga Ichigo. Hanatarou, shinigami divisi empat yang selalu membantu Ichigo sejak pertama kali menginjakkan kakinya ke Soul Siecty. 

"Err Aku tak apa-apa... Sudah dapat pertolongan pertama. Kau rawat yang lebih parah saja."

"Jangan begitu! Siapa pun yang melihatmu pasti tahu kalau lukamu parah!!"

"Ichigo." Suara lain terdengar memanggilnya. Kali ini Gobantai Taichou, Shinji Hirako. "Rukia-chan dan Abarai sudah selesai dioperasi."

Mendengar kabar itu, Ichigo langsung lari menuju Ruang Gawat Darurat. Di sana Renji dan Rukia terbaring lemah tak berdaya, tubuhnya terbalut oleh perban untuk menutup luka-lukanya. 

"Mereka sudah tidak bisa disembuhkan hanya dengan reiatsu, jadi saya mengoperasi mereka agar reishi-nya tidak terlepas dari tubuh mereka. Sekarang mereka sedang memulihkan diri dari kondisi kritis. Kondisi mereka stabil. Saya undur diri dulu. Panggil saja bila butuh sesuatu." Ucap sang perawat yang kemudian meninggalkan mereka berdua.

"Ichigo..."

"Rukia! Kau tak apa-apa?!"

"Dia barusan bilang "kondisi mereka stabil".  Kau tak dengar? Dasar bodoh..."

"Kau... Kau memang kedengaran sudah sehat..."

"...Ichigo..." Ucapannya masih terdengar lemah. "Kau ke sini... ...Untuk melindungi Soul Society... ...Terima kasih..."

"Jelas!" Balas ichigo, "Walau aku tak bisa berbuat apa-apa kali ini!"

"Tolol!" Ucap Shinji yang sedari tadi terdiam. "Bukannya kau membuat bos musuh melarikan diri? Kalau kau tak datang, keadaannya bisa jadi lebih parah. Kau seharusnya jangan merendah, bodoh."

"...Hirako..."

"Kurosaki Ichigo-sama!!" Sosok lain kemudian muncul diantara percakapan mereka. " Kurotsuchi-taichou mencari anda... Soal zanpakutou..."

Tanpa pikir panjang dia langsung menuju tempat Mayuri, berlari dibawah hujan yang masih belum reda. Shinji masih berada di sana, berdiri di dekat Rukia sambil melihat Ichigo dengan penuh harap. "Cih Kau selalu sibuk ya. Bahkan lukamu kau biarkan begitu saja. Selalu memikirkan orang lain."

"...Hirako-taichou..." Ucap Rukia. "Kenapa wajah Ichigo... Kelihatan murung...?"

".Dia melalui masa-masa sulit. Zanpakutou-nya terbelah dua, dan dia tak berhasil menolong siapa pun. Dia pasti lelah. Jangan khawatir."

"Benarkah...?" Ucap Rukia tak yakin. " Benarkah cuma itu...? Entah kenapa... Aku merasa... Dia menanggung beban yang lebih berat..."

Waktu terus berjalan.... Beberapa saat kemudian, semua taichou yang tersisa berkumpul di bagian markas Divisi 1. Di hadapan mereka tergeletak sebuah zanpakutou yang hampir hancur tak bersisa, Ryujjin Jakka, yang kini kesepian dan tak bertuan. 

"Agaknya mereka tak berhasil menemukan jenazah soutaichou." Ucap Ukitake lemah. "Tampaknya sudah dihancurkan oleh musuh."

Wajah semuanya meredup, tak ada lagi sinar kebanggan atas haori mereka, tak ada lagi simpul senyum yang tercipta dibibir mereka. Semuanya meredup, bak bulan yang terturup awan  di kala malam. Tak ada sepatah kata lagi yang mamu mereka ucapkan. Bahkan, menatap kepingan Ryujjin Jakka itu sudah begitu berat bagi mereka.

Tiba-tiba, seorang Ritetai melesat datang menghadap para taichou itu. Berlutut menandakan rasa hormat pada para taichou. " Saya ingin melapor." Ucapannya tak tegas seolah tertahan. "Kuchiki Byakuya, Rokubantai taichou... Dan Zaraki Kenpachi, Juuichibantai taichou... Berhasil selamat dari kematian. Namun sulit diketahui apakah mereka masih mampu bertanggungjawab sebagai taichou dan ada kemungkinan mereka tak akan bisa sadar."

"Pergi!" Bentak Sui Feng tiba-tiba. "Aku tak mau dengar itu sekarang!! Paham?! Soutaichou baru saja meninggal!! Apa lagi yang harus kita dengar?!"

"Hentikan." Ucap Kensei. "Kau menyedihkan."

"Menyedihkan?! Kau bisa bertingkah tenang begitu karena kau tak pernah suka soutaichou!!"

"Beraninya kau..."

"Hentikan, Sui Feng!!" Komamura meraung keras. Mencoba menghentikan tingkah mereka yang kekanak-kanakan. "Kau kira cuma kau satu-satunya orang yang kehilangan?!?"

Kemudian tepuk tangan terdengar diantara pertengkaran mereka. Semuanya kembali diam.  Kyoraku Shunsui, penampilannya sedikit berubah, mata kanannya terluka dan sekarang dibalut oleh menutup mata. 

"Sudaaah. Sudah sudah sudah sudah. Jangan bertengkar. Biasanya, kalau sudah seperti ini kalian semua akan dihajar Yama-jii. Dia akan bilang, memalukan sekali menangis dan marah-marah di depan peninggalannya. Ya, kan?" Ucap kyouraku sambil menahan sedihnya.

"Kyouraku, kau..." Ucap Sui Feng.

"Gotei 13 tidak dibentuk untuk menangisi yang sudah pergi atau merasa kasihan dengan Soul Society yang hancur. Gotei 13 dibentuk untuk melindungi Soul Society. Kita harus terus memandang ke depan. Karena kita adalah Gotei 13."

__________ Trans : Xaliber [English : Mangapanda]
___________ Deskrip : Angoez.
__ Please dont Repost or edit. You can use `share` icon.
_
==================
Pertempuran telah berakhir. Para Quincy telah kembali ke markasnya, meninggalkan kepedihan yang begitu mendalam bagi para shinigami. Seireite benar-benar hancur, gedung-gedung roboh, rata dengan tanah. Tak sedikit shinigami yang menjadi korban dalam pertempuran ini. Banyak dari mereka yang harus menderita, banyak dari mereka yang mengalirkan air mata, banyak dari mereka yang meraung kesakitan. Dan tak sedikit pula dari mereka yang terbujur tak bergerak, berpisah dengan nyawanya.

Sousuke Aizen, entah bagaimana jadinya bila seorang pengkhianat ini tidak menggunakan kekuatannya pada Juha Bach. Mungkin Seireite akan lebih hancur dari ini, mungkin akan lebih banyak korban yang terjatuh karena perang ini. Secara tak langsung, dialah penyelamat Seireite dari kehancuran, kali ini.

Langit masih menangis, membasahi semua roh berpakaian hitam yang dilanda kepedihan dibawahnya. Menyaksikan runtuhnya pertahanan yang tak pernah goyah selama ribuan tahun. Seolah langit Soul Society juga tak rela dengan keguguran para dewa penjaga keseimbangan dunia itu.

Di bawah tetesan-tetesan hujan itu, pada shinigami divisi empat melakukan tugasnya. Memberikan kemampuan mereka yang mereka punya. Divisi yang dianggap paling lemah itu kini berjuang, mencoba menyelamatkan banyak nyawa yang mereka bisa. Mencoba mengurangi air mata yang mengalir karena kematian.

"Kelompok dari tim 11 sampai tim 16, pergi menuju Distrik Timur 56! Yang lainnya ikut denganku!" Suara Iemura, salah satu Buntaichou di Yonbantai terdengar begitu tegas. "Kita urus jenazahnya nanti! Sekarang utamakan yang terluka!"

Para bawahannya segera sigap menjalankan perintahnya. Ini bukan latihan, kini mereka benar-benar berhadapan dengan sesuatu yang mengerikan. Mungkin, baru kali ini mereka menghadapi keadaan seperti ini. Mereka tak mau lengah sedikitpun. "Keadaan darurat! Mohon sediakan tempat!!"

"Baik! Bawa mereka ke kamar 303!!"

Di dalam gedung Yonbantai, Isane dan Unohana terdiam di sana, menatap penuh pedih ke luar sana, ke tempat dimana seharusnya mereka berada. Tak hanya terdiam seperti ini. Namun, mereka harus melakukan itu.

"AkhirnyaYang terluka mulai diurusi... Pada akhirnya, selama pertempuran tak seorang pun dibawa ke sini..." Ucapan Isane begitu pelan. Keadaan kembali hening. "Unohana-taichou, apakah keputusan tepat kita berdiam di sini selama pertempuran...? Seandainya kita ke Seireitei, kita seharusnya bisa menyelamatkan..."

"Isane, jangan mengambil keputusan berdasarkan perasaanmu. Memang mudah bagi kita untuk khawatir dan turun ke medan perang. Tapi, biasanya kau tak seperti ini, sampai-sampai harus kujelaskan kenapa sebaiknya kita tak melakukan itu." Balas Unohana sambil menatap hujan.

"Iya... Aku... Minta maaf...!" Air mata Isane mengalir membasahi pipinya. Dia terlihat tak kuat melihat keadaan ini. Batinnya pun tergerak berucap, "ku benar-benar bodoh. Unohana-taichou jelas ingin menyelamatkan semua orang lebih dari yang ingin kulakukan...!"

"Jangan menangis, Isane. Apa pun yang terjadi Jangan tinggalkan tempat ini. Itu perintah terakhir yang diberikan soutaichou."

Beralih ke Rumah Sakit Seireite. para shinigami di sana tak kalah sibuk dengan para shinigami yang bertugas di luar. Mereka sama-sama terlihat begitu sibuk dengan pekerjaan mereka saat ini. Seseorang dari Pusat Penelitian dan Pengembangan mendekati pada Ichigo yang berdiri di koridor, membawa berita yang cukup baik untuk didengar.

"Ini. Menurut pesan yang dikirimkan Urahara Kisuke dari Hueco Mundo.Urahara Kisuke, Inoue Orihime, dan Sado Yasutora, semuanya aman.Kami belum mendapatkan pesan suara. Tapi kami akan mengabarimu sesegera mungkin bila sudah dapat."

"...Begitu... Baguslah."

"WOOOOOAAAHH!!" Terdengar teriakan shinigami yang berteriak. Tidak bisa menerima semua keadaan ini. "Tak mungkin taichou terbunuh!! Tak mungkin...TAICHOU!!!!!"

"Jangan! Mohon tenang!" Salah seorang shinigami Yonbantai mencoba menenangkannya" Tenang! Seseorang ambilkan penenang!!"

" Ichigo-san!!! Ichigo-san, ayo ke sini! Kau akan kuobati!!" Suara yang cukup familiar terdengar oleh telinga Ichigo. Hanatarou, shinigami divisi empat yang selalu membantu Ichigo sejak pertama kali menginjakkan kakinya ke Soul Siecty.

"Err Aku tak apa-apa... Sudah dapat pertolongan pertama. Kau rawat yang lebih parah saja."

"Jangan begitu! Siapa pun yang melihatmu pasti tahu kalau lukamu parah!!"

"Ichigo." Suara lain terdengar memanggilnya. Kali ini Gobantai Taichou, Shinji Hirako. "Rukia-chan dan Abarai sudah selesai dioperasi."

Mendengar kabar itu, Ichigo langsung lari menuju Ruang Gawat Darurat. Di sana Renji dan Rukia terbaring lemah tak berdaya, tubuhnya terbalut oleh perban untuk menutup luka-lukanya.

"Mereka sudah tidak bisa disembuhkan hanya dengan reiatsu, jadi saya mengoperasi mereka agar reishi-nya tidak terlepas dari tubuh mereka. Sekarang mereka sedang memulihkan diri dari kondisi kritis. Kondisi mereka stabil. Saya undur diri dulu. Panggil saja bila butuh sesuatu." Ucap sang perawat yang kemudian meninggalkan mereka berdua.

"Ichigo..."

"Rukia! Kau tak apa-apa?!"

"Dia barusan bilang "kondisi mereka stabil". Kau tak dengar? Dasar bodoh..."

"Kau... Kau memang kedengaran sudah sehat..."

"...Ichigo..." Ucapannya masih terdengar lemah. "Kau ke sini... ...Untuk melindungi Soul Society... ...Terima kasih..."

"Jelas!" Balas ichigo, "Walau aku tak bisa berbuat apa-apa kali ini!"

"Tolol!" Ucap Shinji yang sedari tadi terdiam. "Bukannya kau membuat bos musuh melarikan diri? Kalau kau tak datang, keadaannya bisa jadi lebih parah. Kau seharusnya jangan merendah, bodoh."

"...Hirako..."

"Kurosaki Ichigo-sama!!" Sosok lain kemudian muncul diantara percakapan mereka. " Kurotsuchi-taichou mencari anda... Soal zanpakutou..."

Tanpa pikir panjang dia langsung menuju tempat Mayuri, berlari dibawah hujan yang masih belum reda. Shinji masih berada di sana, berdiri di dekat Rukia sambil melihat Ichigo dengan penuh harap. "Cih Kau selalu sibuk ya. Bahkan lukamu kau biarkan begitu saja. Selalu memikirkan orang lain."

"...Hirako-taichou..." Ucap Rukia. "Kenapa wajah Ichigo... Kelihatan murung...?"

".Dia melalui masa-masa sulit. Zanpakutou-nya terbelah dua, dan dia tak berhasil menolong siapa pun. Dia pasti lelah. Jangan khawatir."

"Benarkah...?" Ucap Rukia tak yakin. " Benarkah cuma itu...? Entah kenapa... Aku merasa... Dia menanggung beban yang lebih berat..."

Waktu terus berjalan.... Beberapa saat kemudian, semua taichou yang tersisa berkumpul di bagian markas Divisi 1. Di hadapan mereka tergeletak sebuah zanpakutou yang hampir hancur tak bersisa, Ryujjin Jakka, yang kini kesepian dan tak bertuan.

"Agaknya mereka tak berhasil menemukan jenazah soutaichou." Ucap Ukitake lemah. "Tampaknya sudah dihancurkan oleh musuh."

Wajah semuanya meredup, tak ada lagi sinar kebanggan atas haori mereka, tak ada lagi simpul senyum yang tercipta dibibir mereka. Semuanya meredup, bak bulan yang terturup awan di kala malam. Tak ada sepatah kata lagi yang mamu mereka ucapkan. Bahkan, menatap kepingan Ryujjin Jakka itu sudah begitu berat bagi mereka.

Tiba-tiba, seorang Ritetai melesat datang menghadap para taichou itu. Berlutut menandakan rasa hormat pada para taichou. " Saya ingin melapor." Ucapannya tak tegas seolah tertahan. "Kuchiki Byakuya, Rokubantai taichou... Dan Zaraki Kenpachi, Juuichibantai taichou... Berhasil selamat dari kematian. Namun sulit diketahui apakah mereka masih mampu bertanggungjawab sebagai taichou dan ada kemungkinan mereka tak akan bisa sadar."

"Pergi!" Bentak Sui Feng tiba-tiba. "Aku tak mau dengar itu sekarang!! Paham?! Soutaichou baru saja meninggal!! Apa lagi yang harus kita dengar?!"

"Hentikan." Ucap Kensei. "Kau menyedihkan."

"Menyedihkan?! Kau bisa bertingkah tenang begitu karena kau tak pernah suka soutaichou!!"

"Beraninya kau..."

"Hentikan, Sui Feng!!" Komamura meraung keras. Mencoba menghentikan tingkah mereka yang kekanak-kanakan. "Kau kira cuma kau satu-satunya orang yang kehilangan?!?"

Kemudian tepuk tangan terdengar diantara pertengkaran mereka. Semuanya kembali diam. Kyoraku Shunsui, penampilannya sedikit berubah, mata kanannya terluka dan sekarang dibalut oleh menutup mata.

"Sudaaah. Sudah sudah sudah sudah. Jangan bertengkar. Biasanya, kalau sudah seperti ini kalian semua akan dihajar Yama-jii. Dia akan bilang, memalukan sekali menangis dan marah-marah di depan peninggalannya. Ya, kan?" Ucap kyouraku sambil menahan sedihnya.

"Kyouraku, kau..." Ucap Sui Feng.

"Gotei 13 tidak dibentuk untuk menangisi yang sudah pergi atau merasa kasihan dengan Soul Society yang hancur. Gotei 13 dibentuk untuk melindungi Soul Society. Kita harus terus memandang ke depan. Karena kita adalah Gotei 13."

Comments
0 Comments