Laman

Oktober 31, 2012

Alur ceritta Bleach chapter 514 versi teks 515

Alur ceritta Bleach chapter 514
sebelumnya 
Bleach chapter 513
==========================
Juha Bach menatap tak percaya apa yang ada di bawahnya. Melihat dengan kemustahilannya seorang shinigami bisa mempunyai kemampuan seorang Quincy. Matanya kembali tak bisa dibohongi bila dirinya begitu terkejut. Dan kembali terjadi ledakan di sana, Ichigo kembali melancarkan sebuah serangan. 

                                                                   Bleach chapter 514
Born In The Dark
Foto: Chapter 514. Born In The Dark [Text Version]
.............

Pertempuran yang sempat mereda itu kini kembali memuncak. Tak ada lagi pertempuran antara seorang pemimpin dan pemimpin. Sekarang adalah pertarungan antara seorang pemimpin pasukan suci dengan seorang shinigami pengganti. Iya, pertarungan antara Juha Bach dan Kurosaki Ichigo masih belum berakhir. 

Diluar semua dugaan Juha Bach, serangan bilah tajamnya tak dapat menembus kulit shinigami itu, Reitainya masih utuh, tanpa segores lukapun tercipta di sana. Otak Juha Bach mulai berpikir, mencari titik temu antara semua kebingungan yang berada di hadapannya. Namun, Kurosaki Ichigo, begitu lihai menggunakan kesempatan itu, dia langsung menyerang Juha Bach yang berada di atasnya. Reiatsu hitam berhamburan begitu saja, menyebabkan tekanan roh meningkat di sekitarnya.

"Yang Mulia!!!" Kekhawatiran Hascwald kembali muncul melihat tuannya menghilang dibalik selimut Reiatsu hitam itu.

"Kesalahan besar..." Juha Bach masih berdiri di sana. Iya, serangan seperti itu memang tak akan pernah mempan untuk melawan Quincy seperti dirinya. Tubuhnya masih kokoh berdiri, hanya jubah hitamnya yang rusak karena serangan itu.

"Kesalahan? Cuma karena aku bisa bertahan dari seranganmu?" Ucap Ichigo tak mengerti.

"Bukan." Ucap sang Quincy sembari memasang matanya tajam, seolah tak percaya apa yang dia lihat tadi. Keputusan selanjutnya adalah mengeluarkan pedang sucinya, menyerang sosok shinigami berambut cerah di depannya. Ichigo, mencoba untuk menahannya, menggunakan zangetsu sebagai tameng dirinya. Tapi, lengan shikakushou-nya hancur begitu saja. Sang juha Bach kembali memasang penglihatannya tajam-tajam. Wajahnya terlihat menemukan kelegaan setelah melihat apa yang ada di sana. Iya, sangat jelas bagi seorang juha Bach karena itu memang Vene Blut.

"Jadi ternyata benar..." Ucap Juha Bach penuh keyakinan.

"Apa maksudmu?" Ichigo masih tak mengerti tentang apa yang diucapkan shinigami di depannya.

"Kurasa kesalahan besar mengirim Quincy murni untuk menahanmu seharusnya kukirim saja arrancar karena  Itu membuat "Ingatan" dalam reiatsu-mu terbangun. Sewaktu kau ada dalam penjara Kirge, kau mengeluarkan reiatsu-mu sampai titik nadir untuk menghancurkan penjara itu. Ketika kembali ke tubuhmu yang biasa, sisa-sisa reiatsu-mu yang terlepas menyatu dengan reiatsu dari penjara Kirge yang hancur. Reiatsu Kirge yang hancur itu, perlahan menyerap ke dalam jiwamu, membangunkan ingatan dalam reiatsu-mu dari dasarnya. Penjara Kirge dimaksudkan untuk menahan musuh. Tapi tidak bisa memenjarakan Quincy."

Ichigo hanya terdiam, berdiri dengan penuh ketidakmengertian di sana. Dia sama sekali tak tahu apa yang baru saja diucapkan oleh sang pemimpin Vandenreich itu.

"Apa maksudmu...? Ingatan reiatsu? Apa hubungannya dengan Quincy?"

"Benar juga. Kau tak tahu apa pun tentang dirimu." Juha Bach kembali angkat bicara. "Bahkan kau tidak tahu apa pun tentang ibumu."

Ichigo tercengang untuk sesaat. Bagaimana mungkin seorang Juha Bach bisa berucap tentang Ibunya. Seorang Masaki yang meninggal dihadapan Ichigo sendiri. 

"Apa yang kau..."

"Aku ingin membawamu dan "mendidik"mu dari awal tapi tampaknya sekarang tak bisa dilakukan pelan-pelan. Akan kupaksa agar kau menyerah dan membawamu pergi." Sang Juha Bach kembali menghunuskan pedangnya. Sepertinya dia tak ingin membuang waktu lebih lama lagi.

"Kubilang tadi!! Apa-apaan yang kau bilang?!"

"Akan kuberitahu nanti kalau kau sudah di Vandenreich."

Dentingan pedang kembali terdengar. Namun, pengalaman Juha Bach dalam mengayunkan bilah tajam itu tak bisa dibandingkan dengan Ichigo yang masih seumuran jagung. Tangan Juha Bach berhasil mencengkram Ichigo, mencoba menusukkan kembali pedang sucinya.

"Kali ini kau akan kutembus. Jangan kira kau bisa menahannya dengan vena Blut. Akan kulepaskan kekuatanku..."

Namun, sesuatu yang lain terjadi di sana, kembali diluar dugaan Juha Bach. Tangannya seolah diselimuti oleh sesuatu yang hitam. Terpaksa tangannya berhenti untuk menganyun.

"Ini..." Ucap sang pemimpin itu tak percaya.

"Sudah waktunya, Yang Mulia.  Anda tak bisa berada di luar wilayah Shatten Bereich* lagi. Mohon kembali ke Vandenreich." Ucap sang Quincy yang selalu berada di dekat tuannya itu.
*) Shatten Bereich = Wilayah Bayangan (Bahasa Jerman)

"Tak mungkin. Seharusnya masih..." Ucapannya terhenti ketika memorinya menemukan sesuatu. "...Begitu. Aizen Sousuke. Pasti tipu dayanya. Dia bisa membalik indraku cuma dalam waktu singkat. Haschwald, kenapa kau tak bilang padaku?"

" Aku tahu. Mencoba menghentikan anda akan sia-sia." Ucap Hascwald penuh hormat.

"Ya sudahlah. Ayo."

Kedua Quincy ini lalu melangkahkan kakinya, meninggalkan sosok shinigami yang tak jadi ditebas oleh sang Juha Bach itu. 

"Tunggu!!! Kau kira aku akan membiarkanmu pergi? Kau tak mungkin kubiarkan pergi setelah apa yang kau lakukan pada Soul Society!!!"

Teriakan Ichigo dihiraukan begitu saja, keduanya terus melangkah meninggalkan shinigami tak berdaya itu. Tak sabar dengar teriakannya, Ichigo melompat, melaju dengan cepat ke arah kedua musuhnya.

Ichigo: Kubilang, tunggu!!"

Namun, kembali Ichigo dikejutkan oleh kekuatan sang musuh. Bukan Juha Bach kali ini, tapi sang Hascwald yang sejak menapakkan kakinya di Soul Society tak pernah melakukan apa-apa, kini menghunuskan pedang. Ichigo berdiri tak percaya. Iya, Zangetsu miliknya patah, bilah tajam miliknya itu sekarang sudah menjadi dua bagian, karena tebasan pedang milik Hascwald.

"Selamat tinggal, Kurosaki Ichigo." Ucap Juha Bach memandang Ichigo dengan pandangan kasihan. "Suatu hari, aku akan kembali padamu. Sembuhkan lukamu dan tunggulah, anakku yang terlahir dalam kegelapan."

Hening....

Tak ada yang mengerti apa yang diucapkan Juha Bach, Ichigo hanya bisa terdiam, memandang dari belakang sosok yang baru saja mengatakan dirinya adalah ayahnya. Tak ada yang mengerti tentang ucapan Juha Bach, bahkan bagi Ichigo sekalipun.

__________ Trans : Xaliber [English : Mangapanda]
___________ Deskrip : Angoez.
__ Please dont Repost or edit. You can use `share` icon.
_
                                             ==========================
Pertempuran yang sempat mereda itu kini kembali memuncak. Tak ada lagi pertempuran antara seorang pemimpin dan pemimpin. Sekarang adalah pertarungan antara seorang pemimpin pasukan suci dengan seorang shinigami pengganti. Iya, pertarungan antara Juha Bach dan Kurosaki Ichigo masih belum berakhir. 

Diluar semua dugaan Juha Bach, serangan bilah tajamnya tak dapat menembus kulit shinigami itu, Reitainya masih utuh, tanpa segores lukapun tercipta di sana. Otak Juha Bach mulai berpikir, mencari titik temu antara semua kebingungan yang berada di hadapannya. Namun, Kurosaki Ichigo, begitu lihai menggunakan kesempatan itu, dia langsung menyerang Juha Bach yang berada di atasnya. Reiatsu hitam berhamburan begitu saja, menyebabkan tekanan roh meningkat di sekitarnya.

"Yang Mulia!!!" Kekhawatiran Hascwald kembali muncul melihat tuannya menghilang dibalik selimut Reiatsu hitam itu.

"Kesalahan besar..." Juha Bach masih berdiri di sana. Iya, serangan seperti itu memang tak akan pernah mempan untuk melawan Quincy seperti dirinya. Tubuhnya masih kokoh berdiri, hanya jubah hitamnya yang rusak karena serangan itu.

"Kesalahan? Cuma karena aku bisa bertahan dari seranganmu?" Ucap Ichigo tak mengerti.

"Bukan." Ucap sang Quincy sembari memasang matanya tajam, seolah tak percaya apa yang dia lihat tadi. Keputusan selanjutnya adalah mengeluarkan pedang sucinya, menyerang sosok shinigami berambut cerah di depannya. Ichigo, mencoba untuk menahannya, menggunakan zangetsu sebagai tameng dirinya. Tapi, lengan shikakushou-nya hancur begitu saja. Sang juha Bach kembali memasang penglihatannya tajam-tajam. Wajahnya terlihat menemukan kelegaan setelah melihat apa yang ada di sana. Iya, sangat jelas bagi seorang juha Bach karena itu memang Vene Blut.

"Jadi ternyata benar..." Ucap Juha Bach penuh keyakinan.

"Apa maksudmu?" Ichigo masih tak mengerti tentang apa yang diucapkan shinigami di depannya.

"Kurasa kesalahan besar mengirim Quincy murni untuk menahanmu seharusnya kukirim saja arrancar karena Itu membuat "Ingatan" dalam reiatsu-mu terbangun. Sewaktu kau ada dalam penjara Kirge, kau mengeluarkan reiatsu-mu sampai titik nadir untuk menghancurkan penjara itu. Ketika kembali ke tubuhmu yang biasa, sisa-sisa reiatsu-mu yang terlepas menyatu dengan reiatsu dari penjara Kirge yang hancur. Reiatsu Kirge yang hancur itu, perlahan menyerap ke dalam jiwamu, membangunkan ingatan dalam reiatsu-mu dari dasarnya. Penjara Kirge dimaksudkan untuk menahan musuh. Tapi tidak bisa memenjarakan Quincy."

Ichigo hanya terdiam, berdiri dengan penuh ketidakmengertian di sana. Dia sama sekali tak tahu apa yang baru saja diucapkan oleh sang pemimpin Vandenreich itu.

"Apa maksudmu...? Ingatan reiatsu? Apa hubungannya dengan Quincy?"

"Benar juga. Kau tak tahu apa pun tentang dirimu." Juha Bach kembali angkat bicara. "Bahkan kau tidak tahu apa pun tentang ibumu."

Ichigo tercengang untuk sesaat. Bagaimana mungkin seorang Juha Bach bisa berucap tentang Ibunya. Seorang Masaki yang meninggal dihadapan Ichigo sendiri. 

"Apa yang kau..."

"Aku ingin membawamu dan "mendidik"mu dari awal tapi tampaknya sekarang tak bisa dilakukan pelan-pelan. Akan kupaksa agar kau menyerah dan membawamu pergi." Sang Juha Bach kembali menghunuskan pedangnya. Sepertinya dia tak ingin membuang waktu lebih lama lagi.

"Kubilang tadi!! Apa-apaan yang kau bilang?!"

"Akan kuberitahu nanti kalau kau sudah di Vandenreich."

Dentingan pedang kembali terdengar. Namun, pengalaman Juha Bach dalam mengayunkan bilah tajam itu tak bisa dibandingkan dengan Ichigo yang masih seumuran jagung. Tangan Juha Bach berhasil mencengkram Ichigo, mencoba menusukkan kembali pedang sucinya.

"Kali ini kau akan kutembus. Jangan kira kau bisa menahannya dengan vena Blut. Akan kulepaskan kekuatanku..."

Namun, sesuatu yang lain terjadi di sana, kembali diluar dugaan Juha Bach. Tangannya seolah diselimuti oleh sesuatu yang hitam. Terpaksa tangannya berhenti untuk menganyun.

"Ini..." Ucap sang pemimpin itu tak percaya.

"Sudah waktunya, Yang Mulia. Anda tak bisa berada di luar wilayah Shatten Bereich* lagi. Mohon kembali ke Vandenreich." Ucap sang Quincy yang selalu berada di dekat tuannya itu.
*) Shatten Bereich = Wilayah Bayangan (Bahasa Jerman)

"Tak mungkin. Seharusnya masih..." Ucapannya terhenti ketika memorinya menemukan sesuatu. "...Begitu. Aizen Sousuke. Pasti tipu dayanya. Dia bisa membalik indraku cuma dalam waktu singkat. Haschwald, kenapa kau tak bilang padaku?"

" Aku tahu. Mencoba menghentikan anda akan sia-sia." Ucap Hascwald penuh hormat.

"Ya sudahlah. Ayo."

Kedua Quincy ini lalu melangkahkan kakinya, meninggalkan sosok shinigami yang tak jadi ditebas oleh sang Juha Bach itu. 

"Tunggu!!! Kau kira aku akan membiarkanmu pergi? Kau tak mungkin kubiarkan pergi setelah apa yang kau lakukan pada Soul Society!!!"

Teriakan Ichigo dihiraukan begitu saja, keduanya terus melangkah meninggalkan shinigami tak berdaya itu. Tak sabar dengar teriakannya, Ichigo melompat, melaju dengan cepat ke arah kedua musuhnya.

Ichigo: Kubilang, tunggu!!"

Namun, kembali Ichigo dikejutkan oleh kekuatan sang musuh. Bukan Juha Bach kali ini, tapi sang Hascwald yang sejak menapakkan kakinya di Soul Society tak pernah melakukan apa-apa, kini menghunuskan pedang. Ichigo berdiri tak percaya. Iya, Zangetsu miliknya patah, bilah tajam miliknya itu sekarang sudah menjadi dua bagian, karena tebasan pedang milik Hascwald.

"Selamat tinggal, Kurosaki Ichigo." Ucap Juha Bach memandang Ichigo dengan pandangan kasihan. "Suatu hari, aku akan kembali padamu. Sembuhkan lukamu dan tunggulah, anakku yang terlahir dalam kegelapan."

Hening....

Tak ada yang mengerti apa yang diucapkan Juha Bach, Ichigo hanya bisa terdiam, memandang dari belakang sosok yang baru saja mengatakan dirinya adalah ayahnya. Tak ada yang mengerti tentang ucapan Juha Bach, bahkan bagi Ichigo sekalipun.

Comments
0 Comments