Laman

Juli 14, 2012

Alur chapter Bleach 500

BLEACH 500.Rescuer in the Deep Dark
Text Version by : bleachindonesia.com

Beberapa pria dengan hakama marun tampak berlari menyusuri atap dan atas tembok Seireitei. Mengenakan plat kayu menutupi separuh atas wajahnya. Punggungnya memanggul semacam tas. Di dalam hakamanya tersingkap kain hitam. Tim Riteitai!

"Pesan diterima," ujar salah satu dari mereka, berbicara pada seseorang di seberang saluran komunikasi, "Karena mustahil terus-menerus mengirimkan pesan ke para taichou yang bertempur, kami akan memasangkan pedang pengirim pesan di setiap medan dan pergi!"

"Ba... Baik!" ujar Rin, suara di balik saluran itu, "Lakukanlah!!"

Alat semacam kunai segera dipancangkan di setiap medan pertempuran. Di medan Komamura, di medan Renji, bahkan di medan para prajurit biasa. Benda semacam kunai itu terpancang dengan semacam speaker yang berada di ujungnya. Hanya satu, di tempat Kyouraku Shunsui, yang agaknya belum berhasil terpancang--sang Quincy menembak jatuh salah satu anggota tim Riteitai yang berada di sana.

"Kepada setiap taichou, fukutaichou, dan pasukan di seluruh Seireitei!! Mohon dengarkan!!"

Suara Rin menggema.

"Shinigami pengganti, Kurosaki Ichigo, sedang menuju ke Soul Society!"

Mendengar nama yang tidak asing lagi bagi telinga mereka, dua orang terdekat Ichigo--Renji dan Rukia--segera menyadari panggilan tersebut.

"Quincy..." lanjut Rin, "Tidak bisa mencuri bankai-nya!! Sudah dikonfirmasi oleh Institut Penelitian dan Pengembangan!!"

Segera setelahnya, para shinigami lain menanggapi. Komamura, Hitsugaya, Kenpachi. Matsumoto, Byakuya, Ukitake... "Pasti gara-gara Akon..." sebuah suara menimpali. Hanya Kurotsuchi Mayuri yang menanggapinya dengan sinis. Namun di antara mereka ada yang berwajah paling cerah--dipenuhi harapan. "Ichigo-san... sedang menuju ke sini...!" Ryuunosuke Yuki.

Meski demikian harapan itu mungkin datang terlalu cepat.

"...Sebentar..."

Di Institut Penelitian dan Pengembangan, suara sang kepala terdengar muram.

"Ada apa, Akon-daisanzeki?"

"...Aneh... Reiatsu Kurosaki Ichigo di Garganta..."

Kalimatnya terhenti sejenak.

"...Lenyap..."

.
---BLEACH500.Rescuer in the Deep Dark---
.

Brak!

"Sialan..."

Pemuda itu terdengar sangat gusar.

"Apaan ini?! Benda ini..."

Masih sangat gusar, tangannya terus menerus mengayunkan pedang.

"Benda ini...!!"

Brak!

Entah sudah tebasan keberapa barusan itu. Di dalam Dangai, Kurosaki Ichigo terperangkap dalam sebuah penjara yang tampaknya terbuat dari partikel roh berwarna putih. Penjara itu menyekapnya dalam Dangai; mengeliling dirinya dan menutup baik pintu masuk maupun pintu keluar Dangai.

Bzz.

Sebuah suara masuk. Suara dari Institut Penelitian dan Pengembangan.

"Ada apa, Kurosaki?!" suara Akon terdengar jelas, "Ada yang terjadi?!"

"Akon-san?! Maaf, aku tak terlalu paham tapi aku tersangkut..."

"Hei! Jawab, Kurosaki!!"

"Akon-san?!" Ichigo berujar lebih keras. "Aku di sini! Kau tak dengar?!"

"Kurosaki!! Kurosaki!!"

Namun Akon hanya memanggil pada dinding yang tak bergema.

"...Sial, tak ada jawaban..."

Ichigo terdiam. Matanya mendelik. Menyadari bahwa suara di seberangnya tak bisa mendengar apa pun yang ada di sekelilingnya--termasuk suaranya yang barangkali sudah paling keras dalam ruang hampa Dangai itu.

"...Tapi jelas ada sesuatu yang terjadi di Garganta..."

Suara Akon kembali terdengar dari balik sana.

"Segera periksa!" perintah kepala riset itu, "Kirimkan tim Riteitai ke Senkaimon yang menghubungkan jalur ke Hueco Mundo!!"

"Meri-- UWAGH! UWAGH!"

Teriakan dan kegaduhan memotong instruksi Akon. Bukan teriakan dari pihak lain, tapi jelas dari antara anggota Institut Litbang itu sendiri.

"Ada apa?! Akon-san, apa yang terjadi?!"

Percuma.

"Akon-san!!"

Suara Ichigo hanya bergaung dalam ruang Dangai yang sepi.

...

Di Institut Penelitian dan Pengembangan, sesosok raksasa tampak menerobos masuk. Tubuhnya sangat besar, begitu pula lengannya besar dan panjang, bak seekor gorila. Di Seireitei, hanya empat orang yang mempunyai ukuran sebesar itu... dan tentu Institut Penelitian dan Pengembangan segera menganalinya dari semacam topi merah yang ia kenakan.

"Ji... Jidanbou?!"

"Apa yang kau lakukan?!"

Namun ia tidak tampak seperti Jidanbou yang biasanya. Bibirnya terkatup rapat. Pupil matanya tak tampak. Sayang tampaknya belum ada yang menyadari ini, ketika Jidanbou segera mengayunkan tangan raksasanya untuk melibas para anggota Institut.

"UWAGH!"

"Sialan!" Hiyosu, salah satu anggota yang menyerupai makhluk aneh yang bisa memanjangkan mata, segera bertindak cepat. "Sudah membuat data cadangan?!Kalian sembunyilah!!"

Tangannya bersiaga, terpancar partikel roh yang menyerupai pembentukan mantra Kidou.

"Akan kusegel tempat ini!"

"Hiyosu!!"

"Pergilah, Akon!!"

Mata pria bertubuh bulat itu mendelik pada atasannya.

"Kalau terjadi sesuatu denganmu..." ujarnya terpatah, "Tak ada yang bisa memimpin Institut Penelitian dan Pengembangan..."

Jleb!

Sebuah pisau tampak menusuk perut Hiyosu. Bukan ulah Jidanbou, jelas, tangan gorila besarnya tak mungkin bisa mencapai Hiyosu dengan pisau. Pupil Hiyosu masih mendelik, berputar ke bawah, untuk melihat siapa pelaku kecil yang menusuknya.

"...Rin... Apa-apaan kau...?!"

Rin, laki-laki bertubuh kecil memegang pisau itu dengan kebingungan. Wajahnya dilanda kekhawatiran, seakan ia baru saja melakukan hal yang tidak sengaja ia lakukan.

"...Eh...? Kenapa..."

Namun Jidanbou tak mau menunggu. Lengannya diangkat. Genggamannya mengepal. Wajahnya datar. Dan tinjunya mendarat di lantai Institut Penelitian dan Pengembangan... beserta para anggota yang berada di atasnya. Meski Suara keras yang menghancurkan dinding dan sebagian besar yang berada di dalam Institut itu terdengar menyakitkan. Sementara di belakang raksasa itu... tampak sesosok dengan sepatu yang mencuat, tertawa mencurigakan.

"GYAAAAH"

Ichigo, terengah, tak bisa berbuat apa-apa mendengar segala kegaduhan yang terjadi di seberang sana. Di benaknya barangkali terbayang kengerian akan kematian dan ketidakberdayaan rekan-rekannya di Institut Penelitian menghadapi penghancuran.

"Ada apa, Litbang!! Apa yang terjadi?!"

Sebuah suara yang akrab di telinga Ichigo juga terdengar dari balik salurannya.

"Renji?!"

"Sial... aku cuma bisa dengar teriakan dan ledakan...! Apa musuh sudah sampai di Litbang?!"

Satu lagi suara yang akrab.

"Dan Rukia..."

Ichigo terdiam sejenak. Tapi matanya masih mendelik, seakan kengerian terpancar keluar dari pupilnya.

"Woah?!"

Suara lain mulai terdengar.

"Tunggu, benda ini sudah tak berfungsi?!"

"Apa yang terjadi?!"

"Abaikan! Fokus ke musuh!!"

Peluh menetes dari wajahnya. Air mukanya semakin biru.

"Kenapa aku bisa dengar suara semua orang... Walau mereka bukan di Institut Penelitian?!"

"UWAAAAAAH!!"

"Setan!!"

"Taichou!!"

Suara-suara lain terus mengisi saluran komunikasi Ichigo.

"Apa-apaan mereka itu...?"

"AAAAAAAAAAAAAAAAKH"

"Apa yang terjadi?!"

Terus mengisi.

"Sialan... Sialan...!!"

"DIAM!! DIAM!!"

"Kau tak apa-apa?! Aku di sini!!"

Dengan jerit. Dengan kengerian.

"UAGH!"

"Kau tak akan kumaafkan!!!"

"Kubunuh kau, brengsek!!"

Dengan derita. Dengan kemarahan.

"Lakukan saja sendiri!"

"Sakit... sakit sekali!!"

"Apa yang bisa kulakukan?!!"

Dengan rasa takut.

"KYAAAAGH"

"Tolong aku...

"HENTIKAAAAAAN"

Suara-suara itu bergaung dalam ruang hampa Dangai yang sepi. Dalam ruang yang awalnya hanya menangkap bunyi dari gerak langkah Ichigo dan tebasan pedangnya, kini menyimpan penderitaan, kemurkaan, dan kengerian yang terjadi di Soul Society--satu dimensi yang jauh di sana. Mengisi seluruh ruang hampa, dan terdengar sangat dekat bagi seorang saja; bagi Kurosaki Ichigo.

"Ichigo pasti akan datang!!!"

Dan di tengah-tengah kengerian itu, ia mendengar namanya disebut. Ia mendengar namanya menjadi harapan.

Tebasan kembali berayun. Pedang kembali beradu dengan jeruji. Suara gaduh dari medan pertempuran digantikan dengan dentingan pedang. Dentingan penuh keputusasaan yang dilancarkan terus tanpa henti--dentingan keputusasaan yang tak mengubah apa pun kondisi.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGH!!!!!!!!!!!!!!!!"

Ichigo mengangkat Tensa Zangetsu dengan kedua tangannya, berupaya sekuat tenaga menghancurkan jeruji itu dengan ledakan spiritual. Namun hanya getaran hebat yang dihasilkan--tanpa menggores jeruji itu sedikit pun.

"Kasar sekali kau di dalam sana..." di Hueco Mundo, dentingan itu bergema pelan. Sesosok Quincy yang kini bertubuh kekar berdiri memandang gerbang Garganta yang tertutup. "Tapi percuma..."

"Yang Mulia memberiku huruf "J". Kirge Opie, "The Jail"!!"

Sahutnya begitu keras, seakan penuh kemenangan.

"Kau tak akan bisa kelar dari penjaraku!!!"

Matanya melotot, mulutnya terbuka lebar. Setelah upaya yang sia-sia mencuri bankainya, barangkali ini adalah prestasi luar biasa bagi Opie--memenjarakan Ichigo dalam jurang kenestapaan.

"...Kalau begitu..."

Opie dengan cepat mengendalikan emosinya. Wajahnya kembali tenang. Ia berbalik menghadap dua rekan Ichigo yang tampak tak berdaya.

"Sebelum kekuatan yang kuserap dari monster itu lenyap..." ujarnya, tersenyum, "Akan kusingkirkan kalian..."

"Tu... tunggu...!" Urahara, tubuhnya tertancap anak panah dari Opie, tak bisa mencegahnya.

Saat itulah terjadi ledakan besar.

BLAR!!!

Api reishi yang sangat besar, meledak tepat di belakang Opie. Api reishi tersebut membentuk pilar raksasa yang menjulang tinggi, dengan ukuran lebih besar dari tubuh Opie saat menyerap Ayon. Bersaman dengan itu, ledakan itu membelah badan Opie menjadi dua secara vertikal. Lengan kiri dan kaki kirinya terpisah dari badannya.

"Gah..."

Urahara, tak menyadari siapa yang melakukan hal barusan, tertegun.

"Itu?! Siapa--"

Dalam hitungan detik, pelakunya melesat. Melesat lebih cepat dari kejapan mata.

Dan sebilah zanpakutou terpancang persis di samping wajah Urahara.

"Gawat...!"

Bersambung Bleach 501

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar disini, dan gunakan bahasa yang baik dan benar, dan juga saya beritahukan blog ini DOFOLLOW.