Laman

Februari 15, 2013

alur chapter bleach 526 versi teks 527

Bleach chapter 526
The Battle

Tanah penjara bagi para kriminal berat itu kini benar-benar berubah menjadi sebuah pijakan kaki mereka berdua saat beradu pedang. Tatapan-tatapan tajam saling beradu seolah percikan api yang tercipta dikala pedang saling bersilangan. Cairan merah yang mengaril dari luka tebas ditubuh mereka seolah hanyalah gigitan serangga yang tak perlu dikhawatirkan lebih jauh. Shihakushou yang terkoyak seolah menjadi bukti tersendiri bagi keduanya telah mendapat lawan yang sepadan.

Namun, keadaan sedikit membalik. Sebuah tebasan menukik berhasil membuat luka sayat yang lebar dibawah bahu kiri sang Yachiru. Darah mengalir cukup banyak dari bagian terluka itu. Mata Zaraki memicing seiring dengan seringai puas yang terlihat jelas di mulutnya. Walau begitu, sang Yachirou masih tetap berdiri, bahkan menapakkan kakinya lebih keras ke tanah dan tangannya berhasil dia ayunkan, mengantarkan bilah Nodachi panjangnya tepat ke arah wajah Zaraki.

Zaraki melompat mundur ditengah keterkejutannya melihat sang lawan masih bisa memberi serangan balasan di waktu kritis seperti itu. Tapi gerak Zaraki masih lebih lambat dari laju Nodachi yang mengarah pada pipi kanannya, hingga luka sayat kembali terbuka di wajah pria berambut acak-acakan ini.

" Apa kau kira aku sudah mati?." Ucap Unohana pelan. Tangannya kemudian dia arahkan pada luka di bahu kanannya. Sesaat tangannya berpendar. Menciptakan cahaya redup di tengah gelapnya pejara tingkat delapan itu. Perlahan darahnya berhenti mengalir dari luka terbukanya, hingga luka itu benar-benar menutup kembali. "Kau terlalu lembut. Menurutmu, apa sebabnya aku belajar menguasai Chiyudou?."

Tiba-tiba Unohana meningkatkan reiatsunya, Seolah Zaraki mengerti apa yang akan dilakukan oleh lawannya, dia hanya terdiam menatap perempuan berambut panjang yang sedang mengumpulkan reiatsunya.

"Bankai!" Ucap Unohana sembari merentangkan tangannya. Sesaat kemudian Nodachi panjang miliknya terlihat terselimuti oleh cairan kental yang meleleh. Namun, bilah tajam senjatanya masih berada di balik cairan itu. "Minazuki!"

"Main-mainnya sudah selesai.." Ucap Unohana dengan mata yang memicing tajam.

Zaraki hanya berteriak puas melihat sang lawan menunjukkan kekuatan penuhnya. Melihat senjata utama para para shinigami yang sangat jarang ditunjukkan. Keduanya berlari mendekat, saling menghunuskan bilah tajam masing-masing. Minazuki milik Unohana berhasil menghantam pedang tak bernama milik Zaraki, membuat tubuh pria itu terlempar begitu saja.

Bukanlah hal yang aneh bila mulut pria ini kembali menyeringai puas. Unohana kemudian melompat dengan Minazuki yang mengarah tepat pada Zaraki. Dengan mudah Zaraki berhasil menahan dan menghempaskan laju Minazuki. Dia benar-benar merasakan sensasi yang luar biasa dalam pertarungan ini.

Di tengah kepuasannya itu, tiba-tiba kesadarannya seolah dicuri. Sesaat dia merasa seperti sebelumnya. Dia merasakan seluruh tubuhnya meleleh, begitu dengan tubuh sang lawan. "Ya. Meleleh. Rasanya meleleh. Kesenangannya. Perasaan apa ini? Rasanya... Semuanya... Semuanya terasa beda. Kenapa?."

Tapi, pria ini berhasil keluar dari ketidak berdayaan. Dia langsung menyadari sesuatu. Matanya kembali terbuka, semuanya kembali pada semula. Tubuhnya masih utuh, darahnya masih mengalir deras dari luka-lukanya. Tubuhnya masih bergerak menghalau semua serangan yang mengarah padanya. "Aah. Aku paham. Selama ini aku tertidur. Dalam tidur, aku cuma bermimpi kita beradu pedang terus dan terus-menerus. Aku selalu merasa peraduan ini tidak punya makna. Tapi sekarang, karenamu, aku sudah paham. Terima kasih. Ini... Ini... Inilah rasanya bertarung!!!."

"Hei, tahu tidak? Aku suka bertarung. Aku suka. Terlalu suka, sampai seperti kecanduan."

Dilain pihak, Unohana juga merasakan kesenangan yang luar biasa. Perempuan ini benar-benar menunjukkan sisi lain dari Yonbantai Taichou yang terkenal dengan kelembutannya. Tak ada lagi senyum yang selalu terlihat di wajahnya. Senyuman itu kini berubah menjadi seringai tipis yang menunjukkan kepuasannya saat melihat darah lawan mengalir.

Tangannya terus berayun menyabetkan Minazuki ke tubuh pria yang menjadi lawan latihannya itu. Tapi, setiap ayunannya berhasil dihalau begitu saja oleh Zaraki. Seringai itu kini memudar, pandangannya pun berubah ke arah sang Zaraki. "Ya. Aku tahu. Aku sudah sadar jauh sebelum kau sadar.Kau tahu, Zaraki Kenpachi? Kau menemukan caranya menahan diri, sehingga kau bisa menikmati lamanya bertarung. Sementara aku menemukan caranya menyembuhkan diri, sehingga aku bisa menikmati lamanya bertarung. Tapi baru sekarang aku merasa yakin. Bahwa kekuatanku ini semuanya demi hari ini. Hanya ada satu Kenpachi di setiap generasi. Itulah peraturannya. Dan takdir yang tak bisa dihindari. Karena saat orang yang kuat bertemu dengan orang yang sama kuatnya, mereka tidak lagi menggunakan pedangnya demi diri sendiri. Pedang mereka digunakan untuk membunuh atau mengangkat derajat orang kuat yang mereka lawan.."

"Anak ini...pantas menyandang nama "Kenpachi"...!." Hingga akhirnya Unohana menghentikan serangannya, matanya memandang Zaraki dengan pebuh harap. Bibirnya tersenyum, iya, kali ini benar-benar senyuman manis seolah perempuan, seolah dia bangga telah bertemu dengan seseorang seperti Zaraki. Tubuhnya menghentikan gerakannya, seiring dengan menutup matanya, seakan dia sengaja membiarkan tubuhnya terhunus oleh pedang lawannya. "Selamat tinggal. Kau satu-satunya lelaki di dunia yang bisa membuatku bahagia."


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar disini, dan gunakan bahasa yang baik dan benar, dan juga saya beritahukan blog ini DOFOLLOW.