Laman

Februari 02, 2013

Alur cerita bleach chapter Bleach 525 versi teks 523

Alur cerita bleach chapter Bleach 525 
Pertarungan itu masih terus berlanjut. Dentingan pedang yang saling bersilang terdengar begitu nyaring di tengah kegelapan. Tak seperti pertarungan dua Kenpachi seperti biasanya, tak ada orang lain yang menjadi saksi pertarungan mereka berdua. Tak ada shinigami yang mengelilingi medan pertempuran mereka. Hanya ada mereka berdua yang bergelut dalam gelapnya penjara itu.

Unohana masih berada di atas angin. Setiap tebasan yang dia lancarkan dapat mendarat dengan sempurna di tubuh Zaraki, menyisakan sayatan-sayatan yang mengalirkan cairan merah. Walau begitu, mulut Zaraki masih menyeringai walaupun kini badannya sudah penuh dengan darah.

Namun, dibalik mulutnya yang tersenyum lebar, pikiran Zaraki penuh akan sesuatu. Pikirannya kini sedang tak menyatu dengan ayunan pedangnya. Hingga membuat Unohana dapat menangkisnya dengan sangat mudah.

"Buka matamu!! Lagi-lagi, aku kehilangan kesadaran lagi. Terus saja begini. Terus dan terus lagi.." Gumamnya dalam hati. "Aku hilang kesadaran di tengah-tengah pertarungan lalu segera sadar lagi. Jadi ingat masa lalu. Bertarung memang menyenangkan, tapi aku tak pernah kehilangan kendali atau kesadaran. Cuma sekali pernah begitu. Cuma saat itu, sewaktu melawanmu. ."

Waktupun bergulir ke ratusan tahun yang lalu seiring dengan dentingan pedang yang terdengar. Menunjukkan kisah ratusan tahun yang lalu yang tak akan pernah terlupakan oleh keduanya. Terlihat seorang perempuan berdiri dengan pandangan matanya yang terlihat sayu. Rambut panjangnya, lurus teruai begitu saja. Perempuan itu telah memakai Haori sebagai pertanda dirinya memiliki kedudukan tertinggi di sebuah divisi. Walau begitu, pakaian berwarna putih itu telah kotor, lusuh, seolah menunjukkan bila dirinya telah dipakai dalam sebuah pertarungan.

"Taichou!" Seseorang dengan pakaian hitam mendatanginya, bawahannya, tentu saja. Wajah laki-laki itu terlihat begitu resah, walaupun setiap kata yang dia utarakan penuh dengan rasa hormat pada atasannya. "Ini mustahil, Sejauh apa pun kami mencari di Rukongai, saya pikir kami tak akan bisa menemukan orang yang cukup kuat bagi anda..."

Wanita itu menoleh. Ekspresi wajahnya masih datar, tak menunjukkan perubahan sedikit pun. Bila dilihat lebih dekat, tangan kanannya masih memegang sebuah Nodachi, masih berlumurkankan darah, meneteskan beberapa butir darah yang masih tersisa pada bilah tajam itu.

"Kau menyadari niat asliku.." Ucap wanita itu pelan.

"Jelas!. Tujuan misi ini katanya adalah untuk menundukkan petarung di pinggir Rukongai demi menjaga kedamaian Seireitei. Apa ada alasan lain kalau misi seperti itu perlu menyertakan anda?" Masih dengan rasa hormat, laki-laki itu menjawab perkataan sang taichou. Dia tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun, walaupun di samping sang taichou bertumpuk puluhan mayat yang terlah tersusun hingga berbentuk gunung. Bawahan itu seolah sudah biasa melihat hal mengerikan seperti itu. Tak ada yang berlu dia takutkan. "Menebas orang-orang ini tak ada gunanya. Kurasa tumpukan mayat ini mewakili seberapa tidak puasnya anda, taichou!"

Namun, laki-laki itu langsung kaget saat mendengar sang taichou menanyakan sesuatu yang tak pernah dia duga. Perempuan itu --Unohana Retsu. Ah bukan, mungkin saat itu dia dikenal dengan sebutan Yachiru, menanyakan pada bawahannya siapa yang telah membunuh orang sebanyak itu.

"Hah?! Ehm... Bukannya anda yang membunuh mereka, taichou?!." Sang anak buah hanya bisa kembali bertanya.

Tapi, sebelum Unohana menjawabnya, dia telah menyadari sesuatu, sosok anak kecil telah duduk dipuncak gunung mayat itu, tatapan wajahnya tajam seperti pedang yang dia bawa. Tubuhnya berlumurkan oleh darah, seolah cairan merah itu menjadi kebanggaan sendiri baginya.

"Siapa bocah itu?." Tanya sang anak buah.

Tak ada yang menjawab, bahkan Unohana sendiri tidak mengenali sosok anak kecil itu. Anak kecil itu langsung melompat, mengayunkan pedangnya hingga menancap tepat pada dada sang wanita berambut panjang itu. Pertarungan pun terjadi diantara keduanya.

"Dalam pedang. Dalam bertarung. Untuk itu aku berkelana dari satu tempat ke tempat lain mencari sesuatu yang bisa memuaskan pedangku. Mungkin karena itulah pedang kita memutuskan untuk mendorong satu sama lain. Kebahagiaan, Aku tak menyangka aku bisa menemukan nikmat seperti ini dari bertarung melawan bocah." Besit Unohana. " Dan bocah itu adalah yang membelenggu dirinya sendiri di kemudian hari."

Waktu kembali ke masa kini. Ingatan itu telah sirna dari kepala Zaraki. Dirinya kembali tersadar sedang berada dalam pertarungan hidup mati melawan seorang perempuan-yang-tidak-biasa.

Zaraki berhasil melakukan serangan. Tebasannya berhasil mengenai lengan Unohana. Dan pada akhirnya tubuh beperempuan itu berhasil mengeluarkan darah. "Berhasil! Dari tadi aku mencoba menanggapi ayunan pedangnya. Tapi sekarang aku sudah refleks melakukannya. Setiap kali aku kehilangan kesadaran dan kembali rasanya seperti lahir lagi."

Kini, giliran Unohana yang tenggelam dalam setiap masa lalu yang dia ingat. Tentang setiap pertempuran yang dilakukan oleh seorang Zaraki, hingga pertempuran melawan dirinya ratusan tahun lalu.

"Zaraki Kenpachi. Kau mungkin tak sadar di alam bawah sadarmu kau membelunggu dirimu sendiri dan kekuatan bertarungmu. Kenapa ka cuma kalah tipis melawan Kurosaki Ichigo? kenapa kau cuma menang tipis melawan Nnoitra Gilga? ." Batin Unohana terus bergejolak memikirkan laki-laki yang menjadi lawannya. ""Lawannya kuat". Kelihatannya seperti itu dari mata orang lain. Tapi aku tahu bukan itu alasannya. Ini karena kau sendiri yang sangat membatasi kekuatanmu. Saat pertarungan itu kita berdua merasakan kebahagiaan yang belum pernah kita rasakan. Tapi cuma kau, di saat pertarungan itu yang membuatmu berbeda dengan yang sekarang, kau menemukan nikmatnya bertarung sampai titik darah penghabisan. Itulah dosaku.."

" Kau sangat bahagia. Kau cuma menemui orang-orang lemah di sekitarmu. Tak ada lawan untuk menguji pedangmu. Bagimu, aku adalah lawan pertama yang bisa menyeimbangi kekuatanmu. Tapi dulu aku lebih lemah darimu. Pertama kalinya kau bertemu orang yang bisa kau panggil "lawan", kau mengira kalau kau kehilanganku, maka kau akan kehilangan kesempatan menikmati pertarungan lagi. Untuk menyesuaikan dengan kelemahanku, kau tanpa sadar dalam ujung kegelapan membelenggu kekuatanmu sendiri." Unohana masih tenggelam dalam kesadarannya. "Aku sangat menyedihkan. Kau menyegel kekuatanmu sendiri karena kelemahanku. Tapi aku sadar setiap kali kau melawan musuh yang kuat dan sampai di ambang kematian sedikit demi sedikit, kau merusak belenggumu dan berjalan semakin dekat ke dirimu yang dulu. Aku memang kuat. Aku lebih kuat dari siapa pun, kecuali dirimu.."

...

Walau tubuhnya berhasil dilukai, tapi setiap serangan yang dia lakukan tak berkurang sedikitpun. Tebasan kembali Unohana daratkan di tubuh Zaraki, namun sesaat luka itu sembuh, dan sesaat itu pula tebasan lain dia lancarkan, berulang ulang.

"Karena itulah aku akan membunuhmu. Ratusan, ribuan kali. Karena itulah aku akan menyembuhkanmu, terus dan berulang kali, sampai kau kembali ke dirimu yang dulu. Dan lampauilah aku. Tujulah tempat yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.." Ucapan Unohana begitu yakin, seolah sosok yang telah dinantikannya ini sudah bangkit, menjadi seperti yang dia kenal. "Majulah!"

Namun, laki-laki berambut jabrik itu masih belum roboh. Dia masih berdiri, dan pada akhirnya seringai di mulutnya kembali tercipta. Serangan balasan yang dia lakukan berhasil membuah Unohana Tersudut. tebasannya berhasil mengarah pada tubuh perempuan itu.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar disini, dan gunakan bahasa yang baik dan benar, dan juga saya beritahukan blog ini DOFOLLOW.