Laman

September 17, 2011

sunda

Sunda adalah nama “Suku” sebuah kelompok etnis yang mendiami sebuah wilayah Alam yang sangat Indah kaya akan Budaya, Sejarah, Sumber Daya Alam, Sumber Daya Manusia dan lainya. Dalam tulisan saya saat ini akan membahas tentang Budaya dan Sejarah Sunda yang telah sangat lama ada dan sampai saat ini masih ada. Namun sayangnya banyak dari masyarakat Sunda sendiri tidak mengetahui yang sebenarnya apa itu Arti Sunda, bagaimana Budayanya, bagaimana Sejarahnya bahkan lebih jauh dari itu bahwa Sunda merupakan nama sebuah Agama mayoritas pada saat dahulu masih merupakan Nagara “Kerajaan” Sunda yang disebut Jati Sunda.

Sunda memiliki arti Suci atau Wareh Nyampurnakeun/Peta Nyampurnakeun yang artinya Bagian yang Menyempurnakan kenapa dinamakan Sunda karena Sunda adalah bagian yang menyempurnakan Jagat Alam ini, tidak akan sempurna Jagat ini tanpa Sunda. Pada awalnya Sunda adalah sebuah Buana/Wilayah yang Sangat Gelap Pekat Gulita sampai begitu Gelapnya jika ada bara api di depan muka pun tidak akan terlihat. Sampai Suatu hari Saat Sang Hiyang Kala yang merupakan “Dewa” yang bertugas mengatur segala tentang waktu sedang bertugas mengontrol Jagat Raya, Sang Hiyang Kala selalu was-was jika melewati “Buana” ini, beberapa kali Sang Hiyang Kala selalu mendapat “musibah” karena Kegelapannya, hingga pada akhirnya Sang Hiyang kala meminta kepada Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening untuk membicarakan tentang “Buana” ini kepada Sang Hiyang Guriang Tunggal dan pada akhirnya 1000 tahun sejak itu “Buana Sunda” mendapat pancaran cahaya matahari walau masih samar.

Bagaimana nama sebutan Sunda berawal adalah Sang Hiyang Wenang yang memberikan nama Sunda pada Buana itu, sebab setelah Sunda terang ternyata Buana Sunda ini merupakan tempat yang sangat baik dan lengkap segalapun ada disana. Dengan waktu yang berjalan setelah manusia ada di Jagat Raya ini Buana Sunda selalu diisi oleh “Orang-orang” yang bertapa “nyundakeun diri” / “mensucikan diri”……

“… di dinya teh hade jasa pieun panyundaan nyundakeun diri, pieun nyampurnakeun raga eujeung sukma, abeh bisa ngarasa paeh sajero hirup, ngarasa hirup sabari paeh”

“… disana bagus sekali untuk menyucikan diri, untuk menyempurnakan raga dan sukma, agar mampu merasakan mati selama hidup, merasa hidup sambil dalam keadaan mati”.

Lalu semakin lama banyak berdatangan kembali “orang-orang” yang bertapa di Sunda, yang pada akhirnya setelah bertapa di Buana Sunda tidak ada yang tidak unggul selama hidupnya tapi unggul harus dengan tindak dan hati yang baik.

Awal Manusia dalam Sunda berawal ketika Sang Hiyang Guriang Tunggal sedang membuat Panggung Agung di Kahyangan untuk menyembah kepada Sang Hiyang Tunggal di Mandala Agung. Saat Panggung Agung sedang dibuat para pekerja melakukan kesalahan yang mengakibatkan sebuah kayu jatuh dari Kahyangan, karena bisa sangat membahayakan Jagat maka Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening mengejar kayu tersebut hingga ke bumi. Sang Hiyang Wenang turun di Puncak Gunung Mahameru lalu memerintahkan semua penghuni hutan untuk menahan kayu tersebut dengan upah akan dijadikan Manusia. Sedangkan Sang Hiyang Wening turun di Puncak Gunung Nyungcung meminta tolong pada Badak, Harimau, Burung dan Monyet dengan upah dijadikan Manusia pada saat itu Kura-kura putih mendengar semua itu lalu meminta ikut dalam pekerjaan tersebut karena ingin menjadi manusia. Lalu mereka mengerjakan mencari kayu itu semua secara bersamaan. Pada akhirnya kayu bisa dikembalikan lagi ke Kahyangan hingga Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening lega setelah kayu tersebut bisa kembali dan mereka pun kembali ke Kahyangan tanpa apapun.
Setelah Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening kembali ke Kahyangan, kemudian mereka yang sudah membantu merasa bingung dan kesal lalu mereka membicarakan dan akhirnya Badak, Harimau, Burung dan Monyet melakukan tapa sambil membuat Arca tanpa suara tanpa bicara. Hingga pada suatu ketika saat Sang Hiyang Kala sedang bertugas melihat mereka yang sedang tapa sambil membuat arca, dari keempatnya yang paling bagus arca nya adalah buatan Monyet, arca tersebut masih ada di Pasir Kopo. Sang Hiyang Kala ingat bahwa dahulu Sang Hiyang Wenang dan Sang Hiyang Wening pernah berjanji lalu Sang Hiyang Kala memanggil Sang Hiyang Wening dan Sang Hiyang Wenang. Dengan kesungguhan yang telah teruji dengan baik akhirnya Badak, Harimau, Burung dan Monyet di jadikan Manusia oleh Sang Hiyang Tunggal melalui Sang Hiyang Wening. Kelak Ke empat manusia ini yg saling berpencar dan menjadi koloni manusia di Jagat.

Lalu apa Jati Sunda itu, Jati Sunda adalah Agama orang Sunda sebuah Agama lokal dari Nagara Sunda. Kitab Suci Jati Sunda disebut Layang Salaka Domas yg diartikan secara "mudah" adalah "Kitab Suci Delapan Ratus Ayat" yang terdiri dari Kitab Sambawa, Kitab Sambada dan Kitab Winasa, jadi Kitab Jati Sunda itu bukan 1 tapi 3 tapi bukan berarti ada 3. arti dari Sambada, Sambawa dan Winasa adalah Ajaran Kesempurnaan tentang Sambawa ( hidup dari semenjak lahir ). Sambada ( dewasa sampai tua ) dan Winasa ( kematian serta kehidupan di alam hyang. Ajaran Jati Sunda yg terdapat dalam Kitab Layang Salaka Domas disebar di Tanah Sunda pertama kalinya oleh seorang tokoh yang menyandang nama "Mundi Ing Laya Hadi Kusumah" setelah Dia mendapatkannya dari "Jagat Jabaning Langit". Yang disebut "Mundi Ing Laya Hadi Kusumah" bukan anak dari Parabu Siliwangi yaitu "Mundinglaya Dikusumah" tapi sebutan itu yang berarti "Seseorang yang telah mampu mengusung tinggi tentang kematian, setara indahnya bunga", yang juga berarti "seseorang yang telah mampu menguasai hawa nafsunya seraya meninggalkan ihwal keduniawian", sampai saat ini siapa nama sebenarnya dari yang tersebut itu belum ditemukan di Carita, Pantun atau Prasasti apapun. Namun Penulis pertama Ajaran Jati Sunda ke dalam sebuah Kitab adalah Rakean Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu, Raja Nagara Sunda yang terkenal Arif Bijaksana sebagai Resi dan gencar menyiarkan Agama kala itu.

Tempat Ibadah dalam Agama Jati Sunda adalah Pamunjungan atau yang akrab disebut Kabuyutan. Pamunjungan merupakan Punden Berundak yang biasanya terdapat di bukit dan di Pamunjungan ini biasanya terdapat Menhir, Arca, Batu Cengkuk, Batu Mangkok, Batu Pipih dll. Pamunjungan /Kabuyutan banyak sekali di Tatar Sunda seperti Balay Pamujan Genter Bumi, Situs Cengkuk, Gunung Padang, Kabuyutan Galunggung, Situs Kawali dll. Di Bogor sendiri sebagi Pusat Nagara Sunda dan Pajajaran dahulu terdapat Banyak Pamunjungan beberapa diantaranya adalah Pamunjungan Rancamaya nama dahulunya adalah Pamunjungan Sanghyang Padungkukan yang disebut Bukit Badigul namun sayang saat ini Pamunjungan tersebut sudah tidak ada lagi digantikan oleh Lapangan Golf. Pada masanya Pamunjungan yang paling besar dan mewah adalah Pamunjungan Kihara Hyang yang berlokasi di Leuweung Songgom/Hutan Songgom , atau Balay Pamunjungan Mandala Parakan Jati yang saat ini lokasinya digunakan sebagai Kampung Budaya Sindang Barang. Dengan banyaknya Pamunjungan/Kabuyutan tersebut di Tatar Sunda membuktikan bahwa Agma yang dianut atau Agama mayoritas orang Sunda dahulu adalah Agama Jati Sunda ini adalah jawaban kenapa di Sunda sangat jarang sekali diketemukan Candi. Namun begitu Hindu dan Budha berkembang baik di Sunda bahkan Raja Salaka Nagara juga Taruma Nagara adalah seorang Hindu yang taat. Kehidupan beragama di Sunda dahulu sangat harmonis hingga tercipta Kabuyutan Galunggung merupakan Pusat ketiga Agama terse

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar disini, dan gunakan bahasa yang baik dan benar, dan juga saya beritahukan blog ini DOFOLLOW.