Laman

Juli 31, 2011

kerajaan bali

Saya di kasih tugas oleh guru sejarah saya untuk menjelaskan tentang kerajaan bali, saya terpikir munkin ada orang lain yang dikasih tugas yang sama dengan saya jadi saya posting ini, langsung saja. Mari berbagi!

1. Kehidupan politik
Nama Bali sudah lama dikenal dalam beberapa sumber kuno. Dalam
berita Cina abad ke-7 disebut adanya nama daerah yang bernama Dwapa-
tan, yang terletak di sebelah timur Kerajaan Holing (Jawa). Menurut para
ahli nama Dwa-pa-tan ini sama dengan Bali. Adat istiadat penduduk Dwapa-
tan ini sama dengan di Holing, yaitu setiap bulan padi sudah dipetik,
penduduknya menulis dengan daun lontar, orang yang meninggal dihiasi dengan
emas, dan ke dalam mulutnya dimasukkan sepotong emas serta diberi harumharuman,
kemudian mayat itu dibakar.
Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan, pengaruh Buddha datang
terlebih dahulu dibandingkan dengan pengaruh Hindu. Prasasti yang berangka
tahun 882 M, menggunakan bahasa Bali menerangkan tentang pemberian
i in kepada para biksu untuk mendirikan pertapaan di Bukit Cintamani. Pengaruh
Hindu di Bali berasal dari Jawa Timur, ketika Bali berada di bawah kekuasaan
Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, ada sebagian penduduk yang melarikan
diri ke Bali, sehingga banyak penduduk Bali sekarang yang menganggap dirinya
keturunan dari Majapahit.
Prasasti yang menceritakan raja yang berkuasa di Bali ditemukan di desa
Blanjong, dekat Sanur. Dalam prasasti ini disebutkan bahwa raja yang bernama
Khesari Warmadewa, istananya terletak di Sanghadwala. Prasasti ini ditulis
dengan huruf Nagari (India) dan sebagian lagi berhuruf Bali Kuno, tetapi
berbahasa Sanskerta. Prasasti ini berangka tahun 914 M (836 saka), dalam
Candrasengkala berbunyi Khecara-wahni-murti.
Raja selanjutnya yang berkuasa adalah adalah Ugrasena pada tahun
915 M. Ugrasena digantikan oleh Tabanendra Warmadewa (955-967 M).
Tabanendra kemudian digantikan oleh Jayasingha Warmadewa, ia membangun
dua buah pemandian di desa Manukraya. Pemandian ini merupakan sumber
air yang dianggap suci. Jayasingha kemudian digantikan oleh Jayasadhu
Warmadewa yang memerintah dari tahun 975-983 M. Tidak banyak berita
yang menceritakan masa kekuasaannya.
Jayasadhu digantikan oleh adiknya Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi,
seorang raja perempuan. Ia kemudian digantikan oleh Dharmodayana yang
terkenal dengan nama Udayana yang naik takhta pada tahun 989 M.
Dharmodayana memerintah bersama permaisurinya bernama Gunapriyadharmapadmi,
anak dari raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur.
Gunapriyadharmapadmi meninggal pada tahun 1001 M dan dicandikan di
Burwan. Udayana memerintah sampai tahun 1011 M. Pada tahun itu, ia meninggal
dan dicandikan di Banu Weka. Pernikahannya dengan Gunapriya menghasilkan
tiga orang putra yaitu, Airlangga yang menikah dengan putri Dharmawangsa
(raja Jawa Timur), Marakata, dan Anak Wungsu.
Airlangga tidak memerintah di Bali, ia menjadi raja di Jawa Timur. Anak
Udayana yang memerintah di Bali, yaitu Marakata memerintah dari tahun
1011-1022, ia bergelar Dharmawangsawardhana Marakata Pangkajasthana
Uttuganggadewa. Masa pemerintahan Marakata bersamaan dengan masa
pemerintahan Airlangga di Jawa Timur. Marakata adalah raja yang sangat
memperhatikan kehidupan rakyatnya, sehingga ia dicintai dan dihormati oleh
rakyatnya. Untuk kepentingan peribadatan, ia membangun prasada atau
bangunan suci di Gunung Kawi daerah Tampak Siring, Bali.
Marakata digantikan oleh adiknya Anak Wungsu, yang memerintah dari
tahun 1049-1077. Pada masa pemerintahannya, keadaan negeri sangat aman
dan tenteram. Rakyat hidup dengan bercocok tanam, seperti padi gaga, kelapa,
enau, pinang, bambu, dan kemiri. Selain itu, rakyat juga memelihara binatang
seperti kerbau, kambing, lembu, babi, bebek, kuda, ayam, dan anjing. Anak
Wungsu tidak memiliki anak dari permaisurinya. Ia meninggal pada tahun
1077 M dan didharmakan di gunung Kawi dekat Tampak Siring.
Beberapa raja yang memerintah Kerajaan Bali setelah Anak Wungsu,
diantaranya Sri Maharaja Sri Walaprahu, Sri Maharaja Sri Sakalendukirana,
Sri Suradhipa, Sri Jayasakti, Ragajaya, dan yang lain sampai pada Paduka
Bhatara Sri Asta Asura Ratna sebagai raja terakhir Bali. Sebab pada tahun
1430 M, Bali ditaklukkan oleh Gajah Mada dari Kerajaan Majapahit.
Sejak Bali ditaklukkan oleh Majapahit, kerajaan di Bali diperintah oleh
raja-raja yang berasal dari keturunan Jawa (Jawa Timur). Oleh karena itu,
raja-raja yang memerintah selanjutnya menganggap dirinya sebagai Wong
Majapahit artinya keturunan Majapahit.

3. Kehidupan sosial budaya
Struktur masyarakat Bali dibagi ke dalam empat kasta, yaitu Brahmana,
Ksatria, Waisya, dan Sudra. Tetapi pembagian kasta ini tidak seketat seperti
di India. Begitu pula dalam pemberian nama awal pada anak-anak di lingkungan
masyarakat Bali memiliki cara yang khas, yaitu:
a. Wayan untuk anak pertama;
b. Made untuk anak kedua;
c. Nyoman untuk anak ketiga;
d. Ketut untuk anak keempat.
Tetapi ada juga nama Putu untuk panggilan anak pertama dari kasta
Brahmana dan Ksatria.

4. Kepercayaan
Masyarakat Bali banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan India,
terutama Hindu. Sampai sekarang, masyarakat Bali masih banyak yang menganut
agama Hindu. Namun demikian, agama Hindu yang mereka anut telah bercampur
dengan budaya masyarakat asli Bali sebelum Hindu.
Masyarakat Bali sebelum Hindu merupakan kelompok masyarakat yang
terikat oleh hubungan keluarga dan memuja roh-roh nenek moyang yang mereka
anggap dapat menolong dan melindungi kehidupan keluarga yang masih hidup.
Melalui proses sinkretisme ini, lahirlah agama Hindu Bali yang bernama Hindu
Dharma.


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar disini, dan gunakan bahasa yang baik dan benar, dan juga saya beritahukan blog ini DOFOLLOW.